RSS
Facebook
Twitter

November 21, 2023

Mari Berpetualang, Tapi Jangan Lupa Pulang

Entah mengapa rindu itu membawaku pada tulisan pendek ini. Tulisan yang tidak bisa dimengerti, tapi boleh untuk dinikmati. Meski pada bagian ini adalah cerita yang telah usai, namun senjanya, hujannya, dan segala kenangannya kan tetap ada.


Walau aku tahu terkadang rindu itu terasa pilu, karena itu lah, aku dan semuanya telah menjadi masa lalu. Andai waktu mengizinkanku untuk kembali pada suatu masa, akan kupeluk erat bayangmu meski ku tahu hal itu akan terasa lelah. Dan entah mengapa, membayangkanmu (masih ) menjadi hal yang kusukai hingga saat ini. Ku tahu, kita telah bisa sama-sama menjaga hati, tapi satu yang terus ku usahakan, adalah menghapusmu bersama hujan.


Senyummu...


Yang tak pernah berubah itu, selalu menetap dalam ingatanku meski waktu telah lama berjalan. Jika kamu sempat membaca pesanku, tak ada maksud apapun dariku, semua ini hanya rindu. Karena, bukankah rindu itu tak pernah salah berlabuh?


Ya... Mungkin hanya aku yang salah merindu. Tapi semua itu sungguh terasa candu, apalagi dengan satu titik di ujung senyummu yang samar itu. Semuanya indah, pada masa itu. Andai aku tahu apa alasan terbesar cerita ini usai, mungkin tak akan secandu ini. Tapi sejak kamu memutuskan pergi, aku tidak benar-benar menginginkan untuk berpindah hati. 



Tapi sekali lagi, tulisan ini hanya tulisan. Yang bisa diedit bahkan dihapus selagi ku mau. Aku hanya ingin berpetualang, dan sebentar lagi aku akan kembali pulang.

Agustus 16, 2015

Hanya Tak Mengerti

Kepada siapa aku bercerita?
Angin berhembus begitu saja.
Kepada siapa aku mengadu?
Malam selalu datang berpadu.

Aku merasakan dinginnya pagi.
Merasuk dalam jiwaku yang sepi. Amat sepi.
Pekatnya malam kunikmati sendiri. 
Bintang itu, dia tahu yang kurasakan dalam kalbu.

Aku mencoba seperti angin. Merasakan bebas tanpa dinding.
Menembus segala benteng. Tak peduli lebatnya hujan.
Tapi aku siapa?
Jangankan berlari. Untuk bangkit saja susah.

Bukan diriku jika aku tak mengerti.
Bukan diriku jika aku tak mampu.
Bukan diriku jika aku tak berani.
Bukan juga diriku yang jauh akan kepalsuan.

Adakah yang memahami rasaku?
Adakah yang mengerti maksudku?
Akankah semua ini kalah dengan tegarnya hatiku?

Sudah kubilang. Dia tahu.
Apa mungkin dia mengerti?

Agustus 05, 2015

Cahaya Satu Bulan

Kutanyakan pada hempasan angin.
Mengapa slalu kurasakan rindu ini padanya yang lukai hati?
Kutanyakan pada desiran waktu.
Mengapa tiada bosan hati ini mengingatnya?

Dan kurebahkan tubuhku di bawah langit hitam. Sengaja kupandangi bintang-bintang yang tak pernah sendirian. Mereka bahagia. Selalu bersama dalam setianya menghiasi malam pekat. Kupalingkan pada rembulan. Lalu mengapa ia seorang diri? Tak inginkah ia bersama dengan yang lain? Kutemui jawabnya hanya pada satu sinar. Ia memang slalu sendiri. Tapi cahaya seribu bintang tak bisa menandingi cahaya satu itu.

Kini kutahu jawabannya.
Rasa sakit dan kecewa yang kurasakan.
Lalu mengapa aku slalu mengingat dan merindunya?
Karena hanya satu.
Satu ketulusanku untuk mencintanya.
Tak kan pernah terkalahkan dengan besarnya rasa sakit dan kecewaku.

Bukankah waktu yang mengizinkan aku dan dia betemu? Waktu yang mengizinkan aku bersatu dengannya. Bahagia dalam dekapan waktu. Sedih dalam rentangan waktu. Dan semua tentang waktu. 

Dalam dekapan waktu pula aku sangat merindukannya.
Ketika aku rasakan sakit ini.
Ketika aku rasakan kecewa ini.
Namun tak bisa kupalingkan rasa rinduku sedetikpun.
Aku rindu.
Rindu padanya yang biasa membuatku tertawa, tersenyum bahagia.
Meski sekarang kurasakan sendiri.
Tapi cintaku tak pernah bohongi hati. 
Kuingin dia disini. Tepiskan sakit dan kecewaku.

Agustus 02, 2015

Malamku Tentangmu

Yang kusuka dari malam adalah pekatnya. Gelapnya memang gelap, hitamnya memang hitam, tapi indahnya sangat indah. Aku selalu memperhatikan yang terjadi saat malam tiba, hewan bernyanyi sangat riang meramaikan sepinya gelap malam.

Dan hal yang selalu menari dalam bayanganku saat malam tiba adalah kebersamaanku denganmu. Aku tak pernah bisa melepaskanmu dari benakku terlebih pada kesendirianku dalam malam. Angin yang berhembus menerpa tubuhku, menceritakan satu per satu waktu yang telah kita lalui. Tahukah kau bahwa aku selalu merindukanmu? Menantikan waktu untuk mempertemukan kita lagi. 

Aku mendekap angin malam, untuk membiarkannya menceritakan kembali kisahku bersamamu. Sungguh, aku rindu. 

Kamu, memancarkan sinar bahagia yang berhasil kutangkap dengan segenap hatiku. Aku bersedia tertawa, bahkan menangis, asal itu karenamu. Aku siap untuk menembus kerasnya dinding, menahan dingginnya malam asal aku tak kan kehilangan kamu.


Aku tak pernah menang dari rasa curigaku saat kamu jauh. Tak pernah menang dari rasa rinduku saat kau tak di sampingku. Tak pernah menang dari rasa takut kehilanganmu saat hari-hariku tanpamu. Aku selalu menanti mentari untuk bisa melihatnya. Karena berlalunya waktu, membuktikan bahwa aku akan segera bertemu dengan yang kurindukan. Kamu.

Jangan Lupa Bahagia

Apa yang lebih penting untuk bintang selain malam? Dan untuk melihat keindahan dalam kegelapan hari. Apa yang lebih penting dari angin untuk terbangnya sebuah layang-layang? Apa yang lebih penting teruntuk ikan melainkan air?

Aku tau, semua masa ada dalam kadar yang telah ditentukan. Lalu apa pentingnya untuk terus terlarut dalam sebuah kesedihan sedangkan seribu kebahagiaan menantiku selagi aku mampu untuk bangkit? Aku bisa saja berjalan mundur, tapi siapa yang menjamin aku tak kan terjatuh? Entah lubang, atau batu besar bahkan sebuah kulit pisang?

Aku yakin, semua insan tak pernah terlepas dari kesdihan. Semua sama, mengalami fase dimana mereka harus mencoba tegar melebihi yang pernah mereka bayangkan. Hanya satu yang berbeda. Cara bagaimana menghadapi kesedihan itu? Merangkak? Berjalan? Atau berlari? Bahkan diam di tempat untuk melihat sekelilingnya?

Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Namun pedih. Ketika aku beranjak dari tempat itu, seseorang mengajakku untuk tetap disana. Entah apa yang kufikirkan hingga aku tak bisa beranjak. Tak sampai disitu, suara hatiku mengatakan aku harus berlari. Secepat dan sejauh mungkin. Menemukan sebuah tempat yang indah waktu itu. Dimana kupu-kupu terbang menari dengan riang. Burung berkicau dengan merdu. Langit biru dengan awan putih yang membentuk berbagai macam hal dalam bayanganku.

Menari dalam bahagiaku. Merajut senyum dalam hati dan nyataku. Aku menyesal, mengapa tak sedari dulu aku beranjak dari tempat itu? Sementara akan ku temui tempat indah seperti saat ini? Apa yang kukira tak kan pernah berakhir kesedihanku, ternyata itu hanya karena aku tak pernah beranjak darinya. Apa yang ku yakini kini telah berubah, perjalananku telah mengajarkan aku bahwa beranjak itu lebih penting dari sekedar terdiam dalam ketidaknyamanan.

Sayap indah seolah berbicara. Bahagialah dengan hidup yang kamu punya. 
Setelah malam, masih ada hari baru. Jangan lupa bahagia. ;-)

Agustus 01, 2015

Pelukis Hariku

Tidakkah membahagiakan jika melihat kupu-kupu dapat terbang dengan sayapnya? Tidakkah mengagumkan jika nampak ikan dapat berenang? Atau mungkin kelinci yang melompat dengan riang? Kebahagian bukan tentang yang kita inginkan, tapi tentang yang kita punya.

Dan aku tak pernah meminta untuk dipertemukan dengan pemilik hatiku. Lelaki tampan yang juga pandai merajut senyum di wajahku, bersedia melukis hari-hariku. Ini bukan tentang dia, tapi tentang aku yang mencintainya.

Bukan waktu yang sebentar untukku berjalan dari kegagalan soal hatiku. Mungkin aku kuat, sangat kuat. Terhianati oleh cinta yang selalu aku percaya menjadi sejatiku. Tapi apalah daya? Tupai pun masih bisa terjatuh. Namun aku tak menyalahkan kepercayaanku, aku hanya ingin memperbaikinya agar bisa utuh kembali.

Dengannya tak pernah kubayangkan. Matanya, senyumnya, genggaman tangan bahkan aroma yang menjadi khasnya itu, sedetik pun tak pernah lepas dari benakku. Aku bahagia, lebih dari bahagia yang pernah kurasakan. Aku nyaman, lebih dari kenyamanan yang pernah kujalani.

Hampir di sudut setiap aku berada, menjadi saksi kebersamaan kita. Jadi bagaimana aku bisa lepas dari bayang-bayangnya? Hmm, aku bahagia, entah apa yang mampu menggambarkan itu. Bahkan saat seseorang membaca ini dan merasakannya, aku lebih merasakan dari yang mereka rasakan. Bagaimana tidak? Untuk bersedih pun tak ada alasan.


Keindahan alam itu, saksi kebahagiaan yang kita ciptakan. Mungkin tak ada yang mengerti.
Jauh di dalam hatiku, aku masih disana bersamanya. Seseorang yang selalu ada di balik
terciptanya senyuman di wajahku. Yang selalu menjadi pelukis hari-hariku.
Senyumku, senyumnya, dan bahagia milik kita.
  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_