RSS
Facebook
Twitter

Juli 26, 2014

Serpihan yang Tertinggal

Ketika sapaan angin membuatku ingin menutup mataku,
Membuat hatiku bergetar hebat.
Bukan tentang apa yang kurasakan kini,
Tapi, hembusan itu membuatku ingin menyapa sebuah kisah.

"masa lalu...", begitu aku memanggilnya.
Bukan karena telah berlalu, karna itu tak mungkin.
Tak mungkin ku biarkan kisah itu usang, tertutup debu tak terjaga.
Hanya saja, kini, tak lagi bisa kujalani.

Aku pernah menuliskan bahagiaku disana.
Masih ku ingat jelas, bagaimana aku dibuatnya tertawa.
Dan saat ku menutup mataku, kurasakan kehadirannya,
Seolah mengambil kembali lembaran kisah itu.
Diberikannya kepadaku, untuk bisa ku menuliskan kembali bahagiaku,
Yang sempat terlupakan.

Perlahan ku buka mataku.
Ternyata semua itu hanya hayalan.

Serpihan ini tak pernah bisa terbang, walau angin berhembus kencang.
Puing-puing ini takkan pernah terjatuh, walau tiang tak bisa lagi tegak berdiri.

Angin...
Masuklah dalam hatiku,
Rasakan apa yang kurasakan,
Lalu berhembuslah,
Sampaikan apa yang baru saja kau rasakan,
Kepada pemilik kisah itu, ku yakin, ia tak pernah berlalu.

Juli 07, 2014

Malam Tanpa Bintang

Aku seakan iri melihat kedamaian sang malam.
Sepertinya mereka menikmati keheningan yang selalu mereka rasakan.
Pun seperti bintang dan bulan.
Bahkan mereka sangat menginginkan malam tiba.

Namun aku?
Terkadang aku menikmati malam yang hadir ditengah sepiku.
Hanya sekedar tuk curahkan isi hatiku.
Iya, sesuatu yang tak mungkin bisa ku ungkapkan jika malam tak datang.
Tapi tak jarang ku juga rindukan siang.

Aku membenci keheningan.
Seperti aku membenci perasaanku.

Perasaan ketika aku terlebih dahulu mengajak hatiku bersembunyi.
Tapi bersembunyi dari apa?
Bersembunyi dari siapa?

Baru ku sadari bahwa semua itu hanya egoku.
Ego bahwa aku tak suka dicampakkan.
Tak suka jika hal yang baru saja bersamaku menghilang.
Terbang bersama angan tak pastiku.

Tapi aku bersyukur semua itu terjadi.
Dari situlah aku bisa membuat hatiku lebih bersabar hadapi apapun.
Menjadi lebih tegar.
Setegar ketika malam tanpa bintang.

Juli 04, 2014

Seuntai Kata Kegelapan Semu

Aku terpaku melihat keheningan malam.
Bagaimana bisa aku bertahan pada cinta yang tak pernah anggap ku ada?
Bagaimana bisa aku tetap mencoba yakin dan percaya bahwa itu kesejatian cinta?
Sedangkan dia yang ku sebut cinta itu, seperti udara.

Yaa, dia seperti udara.
Nyata, namun semu dipandang mata.
Hadirnya hanya bisa dirasa, tanpa bisa digenggam.

Aku tak mengerti akan hatiku.
Sudah jelas bahwa kau tak mungkin bisa ku miliki.
Namun mengapa aku selalu menanti, menanti hatimu.
Bisa menyambut hangat cintaku.

Aku malu.
Malu pada bulan yang tetap bercahaya.
Walau cahayanya terbawa angin malam.

Namun aku?
Aku hanya bisa menjadi saksi semua itu terjadi.
Kejadian yang mungkin boleh aku ucapkan dengan jujur,
Semua itu membuat hatiku terluka.
Namun siapa yang peduli? Kau? Atau mungkin dia?

Dia yang telah berhasil takhlukkan cintamu.
Apa dia peduli apa yang ku rasakan?
Sakit ini?
Ku rasa tidak.

Hanya pada malam tempatku curahkan segala apa yang ku rasa.
Hanya malam yang mengerti.
Karena kita sama.
Sama-sama bertahan dalam kegelapan yang semu, namun nyata.
  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_