RSS
Facebook
Twitter

Januari 31, 2014

Man Lam Yadzud Lam Yadri

Tak pernah ada cahaya yang tak pernah padam.
Bintangpun akan terkalahkan oleh datangnya siang.
Tapi ada, cahaya yang selalu bersinar.
Namun apaa?

Aku sering berada dalam situasi yang sekarang sedang ku hadapi. Aku sering merasakan bagaimana terhempaskan layaknya histeria. Sama, tak berbeda. Namun kenapa? Hati ini tetap tak semudah itu menerima? Siapa yang seharusnya mengerti akan semua? Siapa yang seharusnya memahami?

Semua orang berkata "kau bodoh, kau tolol, kau lemah", tapi apa mereka tau bahwa sebenarnya aku berusaha untuk kuat? Ini caraku. Dan aku yang tau akan hatiku.

Saat aku dibuat senang olehnya, saat itu pula air mataku berlomba-lomba membasahi pipiku setelahnya. Keadaan ini sering ku temui setaun yang lalu. Cukup lama memang, namun sekarang kembali terjadi untuk pertama kalinya. Aku ingin mengungkapkan maksud dan keinginanku semuanya, melampiaskan semua kata-kata yang tlah tersusun dalam hati ini. Tapi semua itu tertahan oleh perasaan bahwa "aku tak ingin melukai hatinya". Memang gila, sangat gila! Aku tak pernah bisa melampiaskan kata-kata yang sekiranya akan membuatnnya memikirkan sesuatu yang tak kan berujung.

Aku tau bagaimana rasanya memikirkan sesuatu yang seharusnya tak harus menjadi beban pikiranku, seperti saat ini. Dan itu, aku tak ingin membuatnya merasakan hal yang sama. Mereka tak kan pernah tau bagaimana caraku berfikir dan bagaimana caraku menghadapi keadaan seperti ini. Yang mereka tau, aku bodoh, aku tolol, dan aku lemah. Aku yang selalu berusaha menjaga hati dan perasaannya dan tak pernah pedulikan betapa sakit yang kurasakan karenanya. Karna apa? Karna aku takkan pernah membiarkan dua hati itu terluka, tak pernah ada celah jika kedua hati itu merasakan hal yang sama.

Hatiku yang lebih dulu merasakan luka itu, maka aku takkan membuat hatinya merasakan yang sama. Aku hanya berharap, hatinya akan membuat hatiku kembali seperti saat sebelum hatiku memaksa air mataku membasahi pipiku.

Justru ini caraku untuk berusaha kuat, saat aku tak pernah bisa melampiaskan kata-kata dalam hatiku, aku yakin, hatinya kan mengetahui apa yang tersimpan dalam hati ini, suatu saat nanti.

Tak semua bisa terungkap dengan mudah, begitu saja. Akan ada waktu untuk membuat sesuatu itu lebih baik, dan akan menjadi lebih baik saat mengetahui apa yang tlah lama terpendam. Karena itu bisa menjadi sebuah pembelajaran.

Man lam yadzud lam yadri, yang tidak merasakan tidak tau. :')

Januari 19, 2014

Tak Seringan Mata Melihat Tak Seberat Bahu Memikul

Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Kali ini ntah kenapa, saya bisa terinspirasi oleh "styrofoam", benda yang cukup berbahaya, namun sering juga dipakai untuk menyajikan makanan. Hmm, langsung ajadeh, cekidoot!!

Dimata sobat semua, pasti yang namanya styrofoam itu sangat ringan bukan? Bahkan hanya membawa 200 styrofoam yang dikemas dalam satu kantong plastik besar pun lebih ringan daripada harus membawa 3 kg LPG, benar tidak? Iyadong pastinya. Nah, sobat semua pernah berfikir nggak, kalau sebenernya 200 styrofoam itu berat? Seperti ini...

Ada percakapan antara dua orang, ibaratnya X adalah pengemudi sepeda motor, dan Y adalah penumpang sepeda motor yang membawa 200 styrofoam dalam satu kantong plastik besar.
X : "Kamu yakin kuat bawak styrofoam sebanyak itu?"
Y : "Iyalah, orang cuman segini doang, ringan ini mah."

X : "Okelah, yakin kuat yaa!" (sambil menaikkan kecepatan laju sepeda motornya)
Y : "Eh yang bener aja, berat nih!"
X : "Katanya tadi ringan dan yakin kuat? Kok bilang berat sekarang?"
Y : "!@#$%^?"
Nah, sekarang baru terfikir kan kalau styrofoam itu berat? Hehe.. Tapi bukan itu maksudnya. Lanjut yuuk!!

Sobat, dalam hidup ini pasti ada begitu banyak hal yang memberikan pelajaran bagi kita. Contohnya ya tentang styrofoam tadi, secara tidak langsung semua itu menunjukkan bahwa hal yang kita anggap ringan, tak selamanya akan ringan. Dalam hidup ini adalah perjalanan, dalam perjalanan itu kita akan menjumpai hal-hal lain yang membuat hal yang awalnya terasa ringan akan menjadi berat. Dan dalam styrofoam tadi, angin telah membuatnya menjadi terasa berat.

Begitupun dengan hal yang istilahnya lebih dikenal oleh remaja "Love Story", perjalanan cinta. Saat kita berada dalam fase PDKT, semua akan terasa indah, dunia hanya milik berdua *eciyeee :D. Tapi jangan terlena, itu hanya awal saat kita akan menaiki sepeda membawa styrofoam tadi.
Saat awal pacaran, masih mulus tanpa hambatan. Masih mesrah-mesrahnya niih *uhuuk. Itu masih belum ada ujian, sepeda motor masih berjalan datar.
Saat berjalan beberapa bulan atau bahkan hampir setengah atau satu tahun, mulai ada hal yang membuat awalnya indah, menjadi .... *eaaa :D, wkwk. Itulah fase saat sepeda motor mulai melaju dengan kencang dan harus berhadapan dengan angin. Dan ingat, semakin laju kendaraan kita, maka anginpun akan semakin gentar menghalangi, so keep calm guys :D.

Kebanyakan remaja nih ya, kalau ada suatu masalah yang sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan logika, lebih memilih menghadirkan kata "Loe Gue End", nahlo bahasa alayen, wkwk. Putus! Tapi saat itu, udah gak smsan, gak callingan, gak mention, blokir fb, duh parah. Ujung-ujungnya kalo ngerasa kehilangan juga balikan. Bukan gitu caranya main cinta yang bener. Gua ajarin yaa *ehheem :p.

Dari toko beli styrofoam, pasti tujuannya ke rumah kan? Tapi masak iya kayak jin yang hilang dan langsung nyampek rumah :D, it's really impossible! Pasti ada perjalanannya jugak dong?
Kalupun kisah sobat semua mengalami hambatan dan rintangan yang berat, itu wajar kog. Tinggal sobat semua gimana hadapi hambatan dan rintangan itu. Kembali lagi, semakin laju kendaraan kita, maka anginpun akan semakin gentar menghalangi. Maksudnya, semakin sobat dan pasangan saling egois, takkan pernah deh sobat temuin jalan keluar. Solusinya, bicara baik-baik, jangan hanya hubungan lagi baik doang bisa ngomongnya baik, mesrah gitu. Saat ngadepin masalah jugak dong, biar fair. Dan nggak selamanya juga styrofoam itu terasa berat, pengemudi juga akan menurunkan kecepatan dong pastinya, sampai ke rumah dengan kondisi yang "Alhamdulillah", selamat maksudnya :D.

Intinya, jangan menilai semua itu bakal indah, semua itu mudah. Tapi nilailah setiap masalah, hambatan, rintangan untuk menjadi bekal hidup sobat semua bisa seperti yang benar-benar diinginkan. Semua itu pembelajaran dan perjalanan. Ambil setiap hikmah, Insya' Allah your love stories will more beautifull :) *kesedak sandwich*, wkwkwk.

Love Your Life, guys! ;)

Januari 11, 2014

Kebodohan Logika Ketulusan Hati

Aku pernah berada dalam keadaan yang membuatku berfikir tentang dua hal. Mempercayai logika atau hati? Aku mengerti apa yang dikata, adalah sesuatu yang membuatku berfikir tentang suatu kebodohan. Tapi bukankah kebodohan itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan sebuah ketulusan? Sebenarnya, siapa yang bodoh dan siapa yang terlalu berambisi untuk mengerti?

Aku memang ingin merasakan menjadi seperti mereka, menjadi yang selalu diutamakan. Tapi aku sadar, semua itu bukan jalanku dan bukan saatnya untukku mengharapkan semua itu terjadi dalam hidupku. Cerita ini masih panjang. Kenapa semua hanya bisa berfikir kesenangan dan kepuasan untuk saat ini? Bukankah itu hanya nafsu semata? Tapi bukan itu tujuanku!

Bukan ku tak mau menerima kata-kata yang selalu ditiupkan itu, aku mengerti, dan aku paham. Hanya saja, si peniup itu yang tak pernah mengerti akan sikapku selama ini. Aku bukan seseorang yang mudah membenarkan semua, memang tidak ada salahnya, tapi semua itu ber-tapi. Hanya aku, (mungkin) dia, dan Allah yang tau.

Secara logika, memang semua itu benar adanya, itu nyata, tak berbeda sama sekali dan aku mengerti. Tapi, semua itu hanya penilaian tentang logika, bukan hati. Sebuah suling hanya bisa melepaskan nada ke udara tanpa bisa menyerap kembali maknanya, hingga nada itu terserap oleh keberadaan hati yang sedang sepi. Memang indah, namun mungkin tidak begitu ketika hati menerjemahkan segalanya.

Cinta ini tak menuntut untuk menjadi yang sempurna. Karena butuh perjalanan panjang untuk bisa meraih kesempurnaan. Dan tentu tidak mudah. Hanya dengan sebuah kepercayaan yang bermodalkan ketulusan dan keikhlasan, itu bagian dari kesempurnaan. Hanya menunggu Allah menjawab semuanya.

Ini aku dan hatiku yang tak bisa membohongi rasa yang tersimpan selama ini. Walau berat yang ku dengar, tapi dengan hati ini aku bertahan. Mengukir segala kekuatan hingga melukis senyuman bersama kebahagiaan yang sedang disiapkan. Oleh-Nya.

Akal & Hati

Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Sudah sebulan lebih nih saya nggak update postingan, hehe. Maklumlah, waktu tak ada dan katapun tak tersedia, hihihi. Sahabat blogger, sebulan ini saya sedikit mengerti hubungan akal dengan hati. Dan itulah yang menjadi bahan postingan saya kali ini. Langsung ajadeh, hehe...


Nah sobat, ternyata dua hal ini adalah unsur yang penting untuk membentuk suatu kepribadian seseorang. Bukan hanya pintar karena seringnya otak bekerja, namun juga harus diimbangi dengan hati yang seringkali dilupakan dalam mengatasi suatu pemikiran. Jika diibaratkan, sebuah ruangan yang gelap dan lampu penerangan, maka ruangan itu adalah akal, sedang lampu penerangan adalah hati.

Ada dua pernyataan, nah manakah menurut sobat yang benar?
1. Akal mempengaruhi hati.
2. Akal dipengaruhi hati.

Menurut pendapat saya, pernyataan yang kedua lebih bisa diterima daripada yang pertama. Bukan yang pertama itu salah, namun semua tergantung bagaimana seseorang berfikir. Pada dasarnya, ruangan yang gelap akan tetap gelap jika memang dibiarkan gelap. Namun bisa kan untuk meneranginya dengan lampu penerangan? Kurang lebih seperti itu gambarannya, hehe.

Jika seseorang itu lebih dulu berfikir dengan hatinya, mungkin sangat sedikit kemungkinan mereka salah dalam mengambil keputusan/pilihan. Mengapa? Karena hati adalah kunci. Dimana kunci itu harus mencari pintu yang cocok dengannya.

Pintu yang jika kita hanya berfikir menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati kita, maka kemungkinan saat kita membuka pintu itu, hanya ada NAFSU dibaliknya. Pintu yang lainnya, jika kita lebih dulu mengenali kuncinya Insya Allah, kunci tersebut yang akan menuntun kita pada tujuan yang kita inginkan. Karena pada dasarnya, hati adalah hakikat yang mempengaruhi keputusan akal kita.

Sebuah pembelajaran yang saya terima, bahwa manusia boleh saja berpendapat tentang orang lain, namun jangan menilai tentang kehidupannya. Karena hanya yang Maha Menciptakanlah yang mengatur semua dan berhak menilainya. Nah, semoga sobat semua bisa menarik kesimpulan sendiri dan bisa membantu untuk bisa lebih berfikir tentang yang terbaik bagi sobat semua.

Wassalamu'alaikum.
  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_