RSS
Facebook
Twitter

November 11, 2014

Menunggumu Mengerti

Hai pemilik senyuman.. Entah kenapa setiap mereka menyebutkan namamu, hatiku begitu tak mengerti apa yng dirasakannya. Taukah kau bahwa aku sedang kecewa? Kecewa tentang permainan cinta. Drama yang terlalu sempurna hingga aku terlena dalam permainannya. Yang membuatku sempat tak bisa bangkit. Setelah tau ketulusanku dipermainkan.

Tapi, aku sadar bahwa ini yang terbaik, sebelum aku terlalu jauh bermain dalam sandiwara menyakitkan itu.Setiap malam aku selalu berharap kamu datang membawa serta senyumanmu itu. Kurasa hanya dengan itu semua kegundahan yang kurasakan ini lenyap. Seolah senyummu adalah sihir. Aku terpanah, namun tak terluka.

Apa kamu tak mengerti apa yang kurasa? Aku ingin mengenalmu juga, jangan kau tanya pada mereka tentangku. Tanyalah kepadaku bagaimana aku. Aku melihatmu berbeda, memang. Setelah aku merasa terjebak dalam sandiwara yang begitu indah, ternyata kamu sadarkan aku bahwa itu hanya sandiwara.

Kemarilah, mendekat padaku. Aku sudah mengosongkan hatiku, aku sudah menyembuhkan lukaku sendiri. Jika kamu datang padaku, singgah dalam beranda hatiku, kamu akan lihat betapa hanya dirimulah yang kau lihat. Sosok yang mampu membuatku berpaling dari apapun.

Datanglah dengan senyumanmu. Aku rindu ingin melihatnya. Mana mungkin aku berkata "aku ingin lebih dalam mengenalmu", tak mungkin. Maka sadarilah bahwa (mungkin) aku rasakan yang sama. Kau mampu membuatku mengenangmu seharian. Kau mampu membuatku bahagia saat mereka berkata bahwa kaiu menanyakan tentangku. Kau mampu lakukan itu, namun apakah kau tak bisa mengerti akan semua ini?



Dengarkan.. Aku sempat memilihnya untuk singgah dalam hatiku, tapi nyatanya aku terjebak dalam sandiwara yang indah. Lalu aku teringat pada senyumanmu, mungkin ini. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan. Dan taukah kau bahwa aku memilih untuk mengenalmu. Aku mencoba mengubur dalam-dalam rasa ini. Dan saat kau datang, jantungku berdetak seolah ada yang ingin ia katakan. Tapi aku menahannya, untuk jangan katakan. Aku ingin kamu tau, dan aku tak ingin terluka (lagi). Cukup kurasakan kebahagiaan dalam sandiwara, aku ingin rasakan kebahagiaan sesungguhnya, bersamamu.
Aku menunggumu mengerti..

November 08, 2014

Pengelana

Aku menyebutmu angin. Kau mampu bergerak, mengikuti ke arah fikirku. Kau mengelilingi, memenuhi beranda hatiku. Dalam jiwaku, kau bersandar. Aku menempatkanmu pada sisi hatiku yang tak terlukai. Aku tak ingin kau menutup luka hatiku, biar aku yang menutupnya sendiri, dengan senyum dan perhatianmu.

Aku sering membodohi hatiku sendiri, aku bilang, bahwa aku tak mempunyai rasa untukmu, tapi nyatanya, rasa itu menggebu. Tak bisa kututupi saat kau menatap tajam mataku. Memang, kau tak mengatakan apapun, begitu juga aku. Tapi kusadari bahwa sepasang mata kita berbicara tentang bahasanya sendiri. 

Saat ku tengok beranda hatiku, kau tersenyum, indah seperti tak akan lenyap. Saat itu pula aku tersadar aku terbawa lamunan olehmu. Oleh kamu yang mungkin mengerti namun tak memahami. Sebenarnya aku ingin, duduk berdua dan saling pandang, hanya terdiam, dan membiarkan sepasang mata dan hati kita menyatu.

Aku mengerti akan hatimu yang tersakiti oleh waktu, saat ia menjawab bahwa ia tak seperti yang kamu inginkan. Namun kau tak pernah membiarkan aku untuk mencoba mengobati lukamu. Taukah kau bahwa aku ingin? Menjadi satu-satunya rasa yang kau punya setelah lama hatimu tak berpenghuni. Oh mungkin masih, tapi kau tak menyadari bahwa ia telah pergi. 


Aku mengerti bagaimana rasanya tersakiti. Dan aku baru saja rasakannya. Aku tau, sulit untuk menerima segala yang tak pernah terpikirkan. Tapi yakinlah, bahwa terkadang yang tak pernah terpikirkan adalah kebahagiaan yang jauh lebih indah. Karena hadirnya tanpa rencana, tanpa diduga dan mengalir seperti air, berkelana bagai udara. Dan aku menyebutnya, kamu.

November 06, 2014

Teruntuk Pemilik Senyuman

Cinta itu sebuah rasa. Rasa itu nyata. Nyatanya seperti kamu.
Rasa ini berawal di tempat itu. Saat aku sibuk menatap layar komputer, kau datang entah darimana, membawa senyum indah lalu kau tebar di depan mataku. Memaksaku untuk memalingkan pandanganku. Awalnya aku tak mengerti tentang pertemuan pertama kita. Lagipula saat itu, aku telah memiliki cinta. Entah percaya atau tidak, entah ini kebetulan atau memang firasat. Datangmu ternyata perlahan menyembuhkan luka yang kurasakan tak jauh dari pertemuan awal kita. Ya, aku sempat terluka, karena cinta yang selama ini membutakan mata hatiku karena sibuk memikirkannya.

Sekarang aku menyadari bahwa itu kamu. Rasa itu kamu, membuatku semakin ingin mengerti tentangmu. Andai kamu tau aku juga sibuk mengenang senyummu yang berhasil memalingkan segala apa yang telah aku hadap, hanya untuk melihatnya?

Itu cinta, hadirnya tak pernah ku kira, bahkan setelah aku meyakini bahwa cinta yang sempat kumiliki adalah yang terbaik untukku, nyatanya tidak. Apa kamu tak bisa membaca setiap tatapan mata yang sengaja ku perlihatkan kepadamu? Kamu terlalu bodoh jika kamu berfikir aku tak ingin mengenalmu. Ketahuilah bahwa rasa itu ada, untukmu.



Kamu seperti membawaku dalam tempat berbunga, mengajakku untuk segera pergi dari penjara berduri. Itu kamu, tapi kamu tak menyadari bahwa kamu telah melakukannya untukku. Untuk menyembuhkan lukaku.
Apa aku harus mengatakan padamu, bahwa aku juga ingin mengenalmu? Apa aku harus mengatakan kepadamu bahwa hatiku selalu memanggil kamu untuk menampakkan senyummu kembali? 
Karena percaya atau tidak, saat hatiku dengan tanpa sengaja memikirkanmu, tak jauh dari itu kamu datang, seolah kamu mengerti bahwa aku ingin sekali melihatnya, melihat tentang apa yang selalu membuatku berpaling dari segala yang telah kuhadapi.

Rasa yang kurasakan kini, memang tak sepenuhnya kupahami. Entah hanya emosi, atau memang dari hatiku. Nyatanya saat kamu datang aku selalu tak mengerti apa yang harus kulakukan, apa kamu tak pernah melihat hal bodoh yang kulakukan di depanmu? Itu  karena aku tak bisa membaca apa yang ada dalam hatiku, seolah kamu mematikan jalan fikiranku agar hanya tertuju padamu.
Untukmu, seseorang yang tak pernah kuduga dengan senyum indahmu, mengertilah bahwa aku juga ingin mengenalmu. 

Tentang Kamu

Aku bukan seorang yang mudah jatuh dalam cinta. Aku tau bahwa aku baru saja terluka karenanya, karena sandiwara yang terlalu lama berdrama. Dan kamu datang, seperti sepenggal lirik lagu "dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku", hmm aku tak mengerti apa bisa secepat ini?? Aku mencoba memahami rasa nyaman saat bersamamu, aku memang pernah rasakan yang sama dengan orang lain sebelum kamu datang, tapi ada rasa berbeda yang tak mampu kujelaskan.

Apa aku jatuh cinta? Kamu terlalu indah, kamu memang tak sempurna, tapi aku cukup bahagia saat kamu ada. Aku tak bisa jelaskan apa rasa ini, apa yang kurasa. Disini, dengan untaian kata ini, aku sedikit bisa mengungkapkan apa yang harus kamu tau. Iya, harusnya kamu tau.

"Yang kamu cintai sebenarnya adalah bayanganmu, jangan berharap ia kan jadi nyata. Apalagi dalam kegelapan, ia semakin semu", seperti itu bisik hatiku sendiri saat kau tak ada disampingku, tak menemaniku. Aku mencoba untuk tak terlalu berharap saat kau tak ada, namun aku tak bisa untuk tidak menghiraukan perasaan yang menggebu, yang inginkan kamu disini, menemani aku.

Aku memang tak lagi bersembunyi dalam tawa palsu, tawaku saat bersamamu adalah sebenar-benarnya tawa yang ku lepaskan. Namun kukira, kau tak pernah tau, ada sesuatu yang tersembunyi dalam tatapan mataku. Atau mungkin kamu tau, tapi kamu mencoba memalingkan. Mungkin kamu takut kamu mengerti, dan aku takut kamu menyadari.

Dan andai kamu tau, apa yang harus kukatakan? Aku menyayangimu? Itu tak mudah bagiku. Tak mudah menjelaskan apa yang kurasakan selagi kau tak rasakan yang sama. Rasakan apa yang kurasakan, dan saat itu aku mampu jelaskan.

Perasaan memang tak mudah ditebak, sepertimu. Kamu seperti menyimpan banyak pertanyaan, entah tentang apa? Apa kau pernah bertanya pada hatimu, apa yang sebenarnya aku rasakan? Apa kau pernah bertanya pada dirimu, apa kau memiliki rasa yang sama?

Kamu misterius, aku hampir tak bisa membaca tatapan mata tajammu yang membuatku semakin terperangah. Semakin menduga-duga apa yang sebenarnya ada di benakmu? Tentangku? Atau tentang perasaan dan hatiku?



Ini dari hatiku. Aku sering melihatmu berkelana dalam fikiranku, ada senyummu, ada tawamu, ada tatapan matamu. Aku cukup bahagia melihat semua tentangmu. Apa kamu tau apa itu? Kamu sering membuatku melayang, terbang bersama bahagia yang kamu ciptakan. 
Disini, aku bisa dengan leluasa menceritakan tentang apa yang dirasakan oleh hatiku, tentang kamu, kamu yang mengisi hatiku yang kosong tak berpenghuni. Aku sering menyelipkan perasaanku dalam obrolan kecil kita, dan mungkin kamu menganggap bahwa itu adalah canda semata. Namun yang harus kamu tau, itu bukanlah canda semata, itu serpihan hatiku yang ingin ungkapkan yang dirasakannya kepadamu.
Kamu tak perlu tau aku menyimpan sebuah rasa, hanya kamu ada untukku, itu sudah membuatku bahagia. Cukup kamu hadir dalam mimpiku, kamu adalah perasaanku saat ini.

Disini Aku Berhenti

Disini, aku berhenti. Memperjuangkan yang membuatku terluka. Aku memang tak pernah membayangkan bagaimana semua ini bisa berakhir, setelah sekian lama waktu bersamaku, dan di hari ini, aku menampakkan lelahku, yang selama ini bersembunyi dalam tawa palsu. Iya, aku bahagia bersamanya, dan di dalam hatiku. Tapi kini, semua berbeda, entah karena apa? Apa membosankan baginya? Apa tak lagi indah untuknya? Mungkin, karena aku rasakan yang sama.

Disini, aku berhenti. Atas nama bahagia yang kulupakan hanya tentang dia. Yang selalu menyita segala waktu dan energiku untuk berfikir tentangnya. Dan aku tak pernah mengerti, seberapa penting dirinya bagiku hinga kulupakan segala apa yang berhak aku rasakan di dunia ini, dalam hidupku.

Disini, aku berhenti. Dari kenyamanan palsu yang pernah kuyakini. Memang, aku yakin dia yang terbaik, aku yakin dia untukku. Namun, Tuhan membuka mata hatiku, bahwa bahagiaku bukanlah bersamanya. Aku sempat tak bisa menerima, namun apa yang bisa kulakukan jika memang itu yang terbaik untukku menurut-Nya?

Disini, aku berhenti. Bersembunyi dalam luka, berdiam diri dalam pagar berduri. Untuk apa? Semua telah berubah. Aku menyayangkan? Iya. Menyayangkan waktu yang telah terbuang hanya untuk memikirkan dirinya yang tak pernah bisa mengertiku. Aku lelah jika harus terus bersembunyi dalam kesakitan yang terbalut senyuman.

Disini, aku berhenti. Belajar memunafikkan rasa. Kini aku mengerti apa yang harus kulakukan. Bangkit dari kepalsuan yang merajalela. Bangkit dari keterpurukan yang menyiksa. Jemput bahagiaku yang telah lama terpendam. Hampir hilang ditelan kepalsuan. Aku rela, atas nama bahagiaku. Aku mencoba untuk terus melanjutkan hidupku, mencari kebahagiaan yang bukan hanya sesaat kurasakan, dan itu, bukan dia. Kuyakinkan hatiku, bahwa tujuanku, bukan dia.



Dan disini, aku berhenti. Demi hidupku yang lebih baik. Berhenti untuk terus membayangkan hal-hal romantisme bersamanya, melanjutkan skenario palsu yang tertuang. Sudaah, bakar skenario lanjutan yang harus kujalani bersamanya. Aku lelah. Aku melepasmu, pergi..
  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_