RSS
Facebook
Twitter

Desember 29, 2014

Tetes Kerinduan

Adakah yang bisa menjelaskan tentang tetes-tetes air yang menggenang di bawah kedua mataku, yang perlahan membasahi pipiku? Tetes kerinduan yang tak lagi mampu kubendung. Kubiarkan ia terurai. Karena seseorang yang selalu ingin kulihat, masih bersembunyi dalam dekapan waktu.

Adakah yang bisa menjelaskan tentang jeritan hati dengan bahasa kalbunya? Mengunci mulutku untuk berkata, hanya tertahan dalam hatiku. Aku inginkan dia saat hatiku ingin memluknya. Dalam sepi, bayangannya slalu memenuhi beranda fikiranku. Ia tersenyum seolah membuatku tegar akan jarak dan waktu yang saat ini membentang.

Ingin aku menari di bawah hujan. Agar tak seorangpun tau air mataku sedang menjelaskan tentang kerinduan yang kurasakan. Begitu dalam hingga aku mampu melukiskan kerinduanku dengan tetesan air mataku. Adakah kau tau, aku kuat karena bayang-bayang senyummu yang slalu membuat jantungku berdegup tak menentu.

Ingin aku berteriak di hamparan pasir yang luas. Agar tak seorangpun tau hatiku sedang menjelaskan bagaimana ia harus bertahan dalam kekuatan yang sebenarnya ia sangat lemah. Lemah akan kerinduan yang tak mampu dijelaskannya.


Kau pemilik kerinduan ini, dengarkanlah, aku sangat ingin berjumpa denganmu saat ini, air mataku terus mengalir sembari menunggu waktu mempertemukan kita. Hatiku menjerit tak kuasa menahan yang dirasakannya. Aku yakin kamu pasti merasakan. Dalam hati aku memeluk bayanganmu, menangkap senyummu, menggenggam tatapan matamu. Hanya itu yang mampu kulakukan untuk menahan segala rasa rinduku untukmu.

Desember 28, 2014

Ada Apa Dengan Pelangi?

Pelangi, seringkali disebut sebagai hal yang didapat setelah hujan. Ia seringkali dikaitkan oleh kesedihan. Adakah yang tau darimana pelangi berasal? Iya, itu hanya biasan cahaya oleh hujan. Lalu jika seseorang menganggap  pelangi itu adalah sebuah kebahagiaannya, akankah ia akan dapatkan kebahagiaannya selamanya? Sedangkan ia tau pelangi bisa hilang??

Aku juga pernah menganggap bahwa biasan cahaya itu sebuah kebahagiaanku, dan memang tetap menjadi kebahagiaanku, namun hanya disaat tertentu, bukan sebagai kebahagiaan setiap waktuku. Biasan cahaya itu kujadikan tolak ukur bagaimana aku harus menghargai hujan. Suatu hal yang terkadang menghadirkan sebuah kerinduan.


Namun aku akan tetap slalu mengingat dimana aku pernah menjadi pelangi untuk seseorang, dan sekarang pelangi itu benar-benar menghilang dari hidupnya. Biasan cahaya yang memang tak bisa memberikan kebahagiaan seutuhnya. Karena kita takkan bisa mengenggam air tanpa menumpahkannya kebawah, dan tak mungkin bisa mengenggam pasir tanpa membuatnya bertaburan terbawa angin. Kita bisa memiliki apa yang ingin kita miliki, tapi harus juga kita sadari bahwa waktu dapat mengambilnya kapanpun. Seperti halnya mentari yang bersembunyi dalam malam, dan bintang yang hilang ditelan sapaan pagi.

Desember 17, 2014

Bersama Hujan

Bersama hujan kulukiskan segala apa yang kurasa saat ini, tentang hatiku, tentang kamu. Aku tak pernah menyangka aku dapat bangkit dari jeratan masa laluku, dari ketidakberdayaan hatiku tentangnya. Aku pernah membayangkan bagaimana kisahku harus berakhir, tapi aku tak yakin untuk bisa mempercayainya. Tapi, setelah kamu hadir mewarnai hari-hariku, membuatku menjalani hariku dengan senyumanku, aku percaya, bahwa Tuhan sengaja membuat kisahku berakhir agar bisa kujalani lembaran baruku bersamamu. Bersama ornag yang dipilihkan-Nya untukku.

Bersama hujan kulukiskan segala apa yang tak mampu kuungkapkan. Tentang hatiku saat bersamamu. Saat itu pula aku membayangkan seandainya saja waktu tak pernah berlalu, tak pernah membiarkan semua itu menjadi kenangan, tapi aku tak mampu hentikannya, waktu tetaplah waktu yang terus berlalu. Tanpa kusadari kenangan itu slalu hidup dalam anganku, untuk dapat sejenak mengobati rinduku saat kau jauh dariku.

Bersama hujan kulukiskan segala apa yang tak dapat kau dengar. Bisikan kata hatiku yang hanya mampu didengar sang waktu, bahwa aku merindukanmu saat ini, merindukan segala apa yang mampu membuat kita tertawa bersama. Mengertilah, aku hanya bisa berbicara pada jutaan air yang turun saat ini, dan mungkin mereka mengerti. Aku dengan segala rasa rinduku, slalu membayangkan kamu ada disampingku diantara mereka. Menyaksikan bagaimana mereka mampu turun untuk berbagi kebahagiaan pada tanah yang haus.


Dengarlah apa yang kukatakan pada hujan. Aku ingin menjadi seperti kalian, meskipun terkadang hadirku tak diharapkan, tapi aku mampu untuk ada di depannya, menyaksikan dia menatapku dalam-dalam. Mengerti bagaimana dia merindukan seseorang, cukup memandang matanya yang selalu membuatku tak pernah berhenti berfikir tentangnya. Tapi aku bukan hujan, aku tetaplah menjadi seseorang yang merindukanmu ditengah hujan.

Desember 14, 2014

Lebih Dari Bahagia

Aku takkan pernah lupakan hari itu. Hari dimana mereka menjadi saksi kebahagiaan kita, atas nama rindu yang seringkali singgah pada hati. Kebahagiaanku tak mampu terucap hanya dengan kata "aku bahagia". Tak pernah kubayangkan sebelumnya kisah cerita yang terjalin saat ini, setelah aku kau buat kecewa. Namun tak bisa kupungkiri bahwa kekecewaanku tiada arti jikalau aku menyayangimu.

Ombak tak pernah bisa menahan dirinya untuk tak ketepi, membasahi kaki yang dilintasinya, disertai jeritan bahagia yang terkasih. Iya, mereka menyaksikan bagaimana aku bahagia bersamamu, bahkan lebih.

Sempat terlintas dalam benakku fikiran yang tak mungkin bisa terjadi,"waktu, jangan berlalu", tapi memang sangat tidak mungkin, hingga ia bisa pergi, namun aku tetap berterimakasih, ia hadirkan rindu, ia pula yang sirnakannya.

Entah apa yang ingin kutuliskan agar kalian mengerti, aku bahagia bersamanya. Rasa ini tak mampu kujelaskan, namun aku rasakan lebih dari apapun. Dan mungkin kalian mengerti.


Hai yang tersayang, terima kasih sudah hadirkan rasa yang indah ini. Aku tak pernah membayangkan bagaimana Dia mempertemukan kita, dan aku tak pernah mengharapkan Dia memisahkan kita. Bahagiaku adalah saat waktu mengizinkan aku menghabiskan hariku bersamamu, meskipun mata ini tak selalu bisa melihatmu, tapi hati ini selalu rasakan ada dirimu. Jangan pernah lari, jangan pergi, karena aku menyayangimu.

Desember 04, 2014

Atas Nama Keegoisanku

Atas nama ketulusanmu, aku meminta maaf. Aku tak lebih dari seorang gadis labil yang masih butuh bimbingan. Maaf atas kata "IYA" yang tlah terucap dari mulutku, yang sekedar memberikan kebahagiaan yang singgah sejenak dalam hidupmu namun ia pergi juga karenaku. Aku tak bisa memunafikkan hatiku terlebih jika aku jatuh hati pada hati selainmu. Aku tak pernah menyalahkan rasa kecewamu, semua yang kau lakukan kepadaku kini, sungguh ikhlas hati aku menerima.

Atas nama hatimu yang terluka, sesungguhnya aku tak sanggup membuatmu merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Dalam dasar hatiku, aku menjerit atas naman kebodohan dan keegoisanku. Aku hanya seperti seorang yang tak mengerti apa itu rasa terima kasih. Tak seharusnya aku membuatmu seperti ini, sungguh hanya ada penyesalan terlebih saat kau memutuskan untuk pergi dari hidupku.

Kamu adalah serpihan rasa sakit atas keegoisan hatiku sendiri, yaa aku tau tak mudah melupakan apa yang sudah kulakukan terhadapmu, terlebih terhadap ketulusanmu. 

Yang bisa kulakukan saat ini adalah memohon pada sang Pencipta Waktu untuk segera menyembuhkan lukamu karenaku. Memohon agar lebih dikuatkan hatimu hadapi kenyataan sepahit ini. Aku tau, kalbu yang menyelimuti hatimu saat ini membuatmu buta akan kata maafku, tapi aku percaya, suatu saat nanti kau pasti bisa bangkit dari rasa sakitmu, aku berharap kamu percaya pada Janji-Nya. Satu kata yang tak kan berarti apa-apa saat ini, namun tak pernah bosan untuk terlontar dari hatiku untukmu, maaf.

November 11, 2014

Menunggumu Mengerti

Hai pemilik senyuman.. Entah kenapa setiap mereka menyebutkan namamu, hatiku begitu tak mengerti apa yng dirasakannya. Taukah kau bahwa aku sedang kecewa? Kecewa tentang permainan cinta. Drama yang terlalu sempurna hingga aku terlena dalam permainannya. Yang membuatku sempat tak bisa bangkit. Setelah tau ketulusanku dipermainkan.

Tapi, aku sadar bahwa ini yang terbaik, sebelum aku terlalu jauh bermain dalam sandiwara menyakitkan itu.Setiap malam aku selalu berharap kamu datang membawa serta senyumanmu itu. Kurasa hanya dengan itu semua kegundahan yang kurasakan ini lenyap. Seolah senyummu adalah sihir. Aku terpanah, namun tak terluka.

Apa kamu tak mengerti apa yang kurasa? Aku ingin mengenalmu juga, jangan kau tanya pada mereka tentangku. Tanyalah kepadaku bagaimana aku. Aku melihatmu berbeda, memang. Setelah aku merasa terjebak dalam sandiwara yang begitu indah, ternyata kamu sadarkan aku bahwa itu hanya sandiwara.

Kemarilah, mendekat padaku. Aku sudah mengosongkan hatiku, aku sudah menyembuhkan lukaku sendiri. Jika kamu datang padaku, singgah dalam beranda hatiku, kamu akan lihat betapa hanya dirimulah yang kau lihat. Sosok yang mampu membuatku berpaling dari apapun.

Datanglah dengan senyumanmu. Aku rindu ingin melihatnya. Mana mungkin aku berkata "aku ingin lebih dalam mengenalmu", tak mungkin. Maka sadarilah bahwa (mungkin) aku rasakan yang sama. Kau mampu membuatku mengenangmu seharian. Kau mampu membuatku bahagia saat mereka berkata bahwa kaiu menanyakan tentangku. Kau mampu lakukan itu, namun apakah kau tak bisa mengerti akan semua ini?



Dengarkan.. Aku sempat memilihnya untuk singgah dalam hatiku, tapi nyatanya aku terjebak dalam sandiwara yang indah. Lalu aku teringat pada senyumanmu, mungkin ini. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan. Dan taukah kau bahwa aku memilih untuk mengenalmu. Aku mencoba mengubur dalam-dalam rasa ini. Dan saat kau datang, jantungku berdetak seolah ada yang ingin ia katakan. Tapi aku menahannya, untuk jangan katakan. Aku ingin kamu tau, dan aku tak ingin terluka (lagi). Cukup kurasakan kebahagiaan dalam sandiwara, aku ingin rasakan kebahagiaan sesungguhnya, bersamamu.
Aku menunggumu mengerti..

November 08, 2014

Pengelana

Aku menyebutmu angin. Kau mampu bergerak, mengikuti ke arah fikirku. Kau mengelilingi, memenuhi beranda hatiku. Dalam jiwaku, kau bersandar. Aku menempatkanmu pada sisi hatiku yang tak terlukai. Aku tak ingin kau menutup luka hatiku, biar aku yang menutupnya sendiri, dengan senyum dan perhatianmu.

Aku sering membodohi hatiku sendiri, aku bilang, bahwa aku tak mempunyai rasa untukmu, tapi nyatanya, rasa itu menggebu. Tak bisa kututupi saat kau menatap tajam mataku. Memang, kau tak mengatakan apapun, begitu juga aku. Tapi kusadari bahwa sepasang mata kita berbicara tentang bahasanya sendiri. 

Saat ku tengok beranda hatiku, kau tersenyum, indah seperti tak akan lenyap. Saat itu pula aku tersadar aku terbawa lamunan olehmu. Oleh kamu yang mungkin mengerti namun tak memahami. Sebenarnya aku ingin, duduk berdua dan saling pandang, hanya terdiam, dan membiarkan sepasang mata dan hati kita menyatu.

Aku mengerti akan hatimu yang tersakiti oleh waktu, saat ia menjawab bahwa ia tak seperti yang kamu inginkan. Namun kau tak pernah membiarkan aku untuk mencoba mengobati lukamu. Taukah kau bahwa aku ingin? Menjadi satu-satunya rasa yang kau punya setelah lama hatimu tak berpenghuni. Oh mungkin masih, tapi kau tak menyadari bahwa ia telah pergi. 


Aku mengerti bagaimana rasanya tersakiti. Dan aku baru saja rasakannya. Aku tau, sulit untuk menerima segala yang tak pernah terpikirkan. Tapi yakinlah, bahwa terkadang yang tak pernah terpikirkan adalah kebahagiaan yang jauh lebih indah. Karena hadirnya tanpa rencana, tanpa diduga dan mengalir seperti air, berkelana bagai udara. Dan aku menyebutnya, kamu.

November 06, 2014

Teruntuk Pemilik Senyuman

Cinta itu sebuah rasa. Rasa itu nyata. Nyatanya seperti kamu.
Rasa ini berawal di tempat itu. Saat aku sibuk menatap layar komputer, kau datang entah darimana, membawa senyum indah lalu kau tebar di depan mataku. Memaksaku untuk memalingkan pandanganku. Awalnya aku tak mengerti tentang pertemuan pertama kita. Lagipula saat itu, aku telah memiliki cinta. Entah percaya atau tidak, entah ini kebetulan atau memang firasat. Datangmu ternyata perlahan menyembuhkan luka yang kurasakan tak jauh dari pertemuan awal kita. Ya, aku sempat terluka, karena cinta yang selama ini membutakan mata hatiku karena sibuk memikirkannya.

Sekarang aku menyadari bahwa itu kamu. Rasa itu kamu, membuatku semakin ingin mengerti tentangmu. Andai kamu tau aku juga sibuk mengenang senyummu yang berhasil memalingkan segala apa yang telah aku hadap, hanya untuk melihatnya?

Itu cinta, hadirnya tak pernah ku kira, bahkan setelah aku meyakini bahwa cinta yang sempat kumiliki adalah yang terbaik untukku, nyatanya tidak. Apa kamu tak bisa membaca setiap tatapan mata yang sengaja ku perlihatkan kepadamu? Kamu terlalu bodoh jika kamu berfikir aku tak ingin mengenalmu. Ketahuilah bahwa rasa itu ada, untukmu.



Kamu seperti membawaku dalam tempat berbunga, mengajakku untuk segera pergi dari penjara berduri. Itu kamu, tapi kamu tak menyadari bahwa kamu telah melakukannya untukku. Untuk menyembuhkan lukaku.
Apa aku harus mengatakan padamu, bahwa aku juga ingin mengenalmu? Apa aku harus mengatakan kepadamu bahwa hatiku selalu memanggil kamu untuk menampakkan senyummu kembali? 
Karena percaya atau tidak, saat hatiku dengan tanpa sengaja memikirkanmu, tak jauh dari itu kamu datang, seolah kamu mengerti bahwa aku ingin sekali melihatnya, melihat tentang apa yang selalu membuatku berpaling dari segala yang telah kuhadapi.

Rasa yang kurasakan kini, memang tak sepenuhnya kupahami. Entah hanya emosi, atau memang dari hatiku. Nyatanya saat kamu datang aku selalu tak mengerti apa yang harus kulakukan, apa kamu tak pernah melihat hal bodoh yang kulakukan di depanmu? Itu  karena aku tak bisa membaca apa yang ada dalam hatiku, seolah kamu mematikan jalan fikiranku agar hanya tertuju padamu.
Untukmu, seseorang yang tak pernah kuduga dengan senyum indahmu, mengertilah bahwa aku juga ingin mengenalmu. 

Tentang Kamu

Aku bukan seorang yang mudah jatuh dalam cinta. Aku tau bahwa aku baru saja terluka karenanya, karena sandiwara yang terlalu lama berdrama. Dan kamu datang, seperti sepenggal lirik lagu "dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku", hmm aku tak mengerti apa bisa secepat ini?? Aku mencoba memahami rasa nyaman saat bersamamu, aku memang pernah rasakan yang sama dengan orang lain sebelum kamu datang, tapi ada rasa berbeda yang tak mampu kujelaskan.

Apa aku jatuh cinta? Kamu terlalu indah, kamu memang tak sempurna, tapi aku cukup bahagia saat kamu ada. Aku tak bisa jelaskan apa rasa ini, apa yang kurasa. Disini, dengan untaian kata ini, aku sedikit bisa mengungkapkan apa yang harus kamu tau. Iya, harusnya kamu tau.

"Yang kamu cintai sebenarnya adalah bayanganmu, jangan berharap ia kan jadi nyata. Apalagi dalam kegelapan, ia semakin semu", seperti itu bisik hatiku sendiri saat kau tak ada disampingku, tak menemaniku. Aku mencoba untuk tak terlalu berharap saat kau tak ada, namun aku tak bisa untuk tidak menghiraukan perasaan yang menggebu, yang inginkan kamu disini, menemani aku.

Aku memang tak lagi bersembunyi dalam tawa palsu, tawaku saat bersamamu adalah sebenar-benarnya tawa yang ku lepaskan. Namun kukira, kau tak pernah tau, ada sesuatu yang tersembunyi dalam tatapan mataku. Atau mungkin kamu tau, tapi kamu mencoba memalingkan. Mungkin kamu takut kamu mengerti, dan aku takut kamu menyadari.

Dan andai kamu tau, apa yang harus kukatakan? Aku menyayangimu? Itu tak mudah bagiku. Tak mudah menjelaskan apa yang kurasakan selagi kau tak rasakan yang sama. Rasakan apa yang kurasakan, dan saat itu aku mampu jelaskan.

Perasaan memang tak mudah ditebak, sepertimu. Kamu seperti menyimpan banyak pertanyaan, entah tentang apa? Apa kau pernah bertanya pada hatimu, apa yang sebenarnya aku rasakan? Apa kau pernah bertanya pada dirimu, apa kau memiliki rasa yang sama?

Kamu misterius, aku hampir tak bisa membaca tatapan mata tajammu yang membuatku semakin terperangah. Semakin menduga-duga apa yang sebenarnya ada di benakmu? Tentangku? Atau tentang perasaan dan hatiku?



Ini dari hatiku. Aku sering melihatmu berkelana dalam fikiranku, ada senyummu, ada tawamu, ada tatapan matamu. Aku cukup bahagia melihat semua tentangmu. Apa kamu tau apa itu? Kamu sering membuatku melayang, terbang bersama bahagia yang kamu ciptakan. 
Disini, aku bisa dengan leluasa menceritakan tentang apa yang dirasakan oleh hatiku, tentang kamu, kamu yang mengisi hatiku yang kosong tak berpenghuni. Aku sering menyelipkan perasaanku dalam obrolan kecil kita, dan mungkin kamu menganggap bahwa itu adalah canda semata. Namun yang harus kamu tau, itu bukanlah canda semata, itu serpihan hatiku yang ingin ungkapkan yang dirasakannya kepadamu.
Kamu tak perlu tau aku menyimpan sebuah rasa, hanya kamu ada untukku, itu sudah membuatku bahagia. Cukup kamu hadir dalam mimpiku, kamu adalah perasaanku saat ini.

Disini Aku Berhenti

Disini, aku berhenti. Memperjuangkan yang membuatku terluka. Aku memang tak pernah membayangkan bagaimana semua ini bisa berakhir, setelah sekian lama waktu bersamaku, dan di hari ini, aku menampakkan lelahku, yang selama ini bersembunyi dalam tawa palsu. Iya, aku bahagia bersamanya, dan di dalam hatiku. Tapi kini, semua berbeda, entah karena apa? Apa membosankan baginya? Apa tak lagi indah untuknya? Mungkin, karena aku rasakan yang sama.

Disini, aku berhenti. Atas nama bahagia yang kulupakan hanya tentang dia. Yang selalu menyita segala waktu dan energiku untuk berfikir tentangnya. Dan aku tak pernah mengerti, seberapa penting dirinya bagiku hinga kulupakan segala apa yang berhak aku rasakan di dunia ini, dalam hidupku.

Disini, aku berhenti. Dari kenyamanan palsu yang pernah kuyakini. Memang, aku yakin dia yang terbaik, aku yakin dia untukku. Namun, Tuhan membuka mata hatiku, bahwa bahagiaku bukanlah bersamanya. Aku sempat tak bisa menerima, namun apa yang bisa kulakukan jika memang itu yang terbaik untukku menurut-Nya?

Disini, aku berhenti. Bersembunyi dalam luka, berdiam diri dalam pagar berduri. Untuk apa? Semua telah berubah. Aku menyayangkan? Iya. Menyayangkan waktu yang telah terbuang hanya untuk memikirkan dirinya yang tak pernah bisa mengertiku. Aku lelah jika harus terus bersembunyi dalam kesakitan yang terbalut senyuman.

Disini, aku berhenti. Belajar memunafikkan rasa. Kini aku mengerti apa yang harus kulakukan. Bangkit dari kepalsuan yang merajalela. Bangkit dari keterpurukan yang menyiksa. Jemput bahagiaku yang telah lama terpendam. Hampir hilang ditelan kepalsuan. Aku rela, atas nama bahagiaku. Aku mencoba untuk terus melanjutkan hidupku, mencari kebahagiaan yang bukan hanya sesaat kurasakan, dan itu, bukan dia. Kuyakinkan hatiku, bahwa tujuanku, bukan dia.



Dan disini, aku berhenti. Demi hidupku yang lebih baik. Berhenti untuk terus membayangkan hal-hal romantisme bersamanya, melanjutkan skenario palsu yang tertuang. Sudaah, bakar skenario lanjutan yang harus kujalani bersamanya. Aku lelah. Aku melepasmu, pergi..

Juli 26, 2014

Serpihan yang Tertinggal

Ketika sapaan angin membuatku ingin menutup mataku,
Membuat hatiku bergetar hebat.
Bukan tentang apa yang kurasakan kini,
Tapi, hembusan itu membuatku ingin menyapa sebuah kisah.

"masa lalu...", begitu aku memanggilnya.
Bukan karena telah berlalu, karna itu tak mungkin.
Tak mungkin ku biarkan kisah itu usang, tertutup debu tak terjaga.
Hanya saja, kini, tak lagi bisa kujalani.

Aku pernah menuliskan bahagiaku disana.
Masih ku ingat jelas, bagaimana aku dibuatnya tertawa.
Dan saat ku menutup mataku, kurasakan kehadirannya,
Seolah mengambil kembali lembaran kisah itu.
Diberikannya kepadaku, untuk bisa ku menuliskan kembali bahagiaku,
Yang sempat terlupakan.

Perlahan ku buka mataku.
Ternyata semua itu hanya hayalan.

Serpihan ini tak pernah bisa terbang, walau angin berhembus kencang.
Puing-puing ini takkan pernah terjatuh, walau tiang tak bisa lagi tegak berdiri.

Angin...
Masuklah dalam hatiku,
Rasakan apa yang kurasakan,
Lalu berhembuslah,
Sampaikan apa yang baru saja kau rasakan,
Kepada pemilik kisah itu, ku yakin, ia tak pernah berlalu.

Juli 07, 2014

Malam Tanpa Bintang

Aku seakan iri melihat kedamaian sang malam.
Sepertinya mereka menikmati keheningan yang selalu mereka rasakan.
Pun seperti bintang dan bulan.
Bahkan mereka sangat menginginkan malam tiba.

Namun aku?
Terkadang aku menikmati malam yang hadir ditengah sepiku.
Hanya sekedar tuk curahkan isi hatiku.
Iya, sesuatu yang tak mungkin bisa ku ungkapkan jika malam tak datang.
Tapi tak jarang ku juga rindukan siang.

Aku membenci keheningan.
Seperti aku membenci perasaanku.

Perasaan ketika aku terlebih dahulu mengajak hatiku bersembunyi.
Tapi bersembunyi dari apa?
Bersembunyi dari siapa?

Baru ku sadari bahwa semua itu hanya egoku.
Ego bahwa aku tak suka dicampakkan.
Tak suka jika hal yang baru saja bersamaku menghilang.
Terbang bersama angan tak pastiku.

Tapi aku bersyukur semua itu terjadi.
Dari situlah aku bisa membuat hatiku lebih bersabar hadapi apapun.
Menjadi lebih tegar.
Setegar ketika malam tanpa bintang.

Juli 04, 2014

Seuntai Kata Kegelapan Semu

Aku terpaku melihat keheningan malam.
Bagaimana bisa aku bertahan pada cinta yang tak pernah anggap ku ada?
Bagaimana bisa aku tetap mencoba yakin dan percaya bahwa itu kesejatian cinta?
Sedangkan dia yang ku sebut cinta itu, seperti udara.

Yaa, dia seperti udara.
Nyata, namun semu dipandang mata.
Hadirnya hanya bisa dirasa, tanpa bisa digenggam.

Aku tak mengerti akan hatiku.
Sudah jelas bahwa kau tak mungkin bisa ku miliki.
Namun mengapa aku selalu menanti, menanti hatimu.
Bisa menyambut hangat cintaku.

Aku malu.
Malu pada bulan yang tetap bercahaya.
Walau cahayanya terbawa angin malam.

Namun aku?
Aku hanya bisa menjadi saksi semua itu terjadi.
Kejadian yang mungkin boleh aku ucapkan dengan jujur,
Semua itu membuat hatiku terluka.
Namun siapa yang peduli? Kau? Atau mungkin dia?

Dia yang telah berhasil takhlukkan cintamu.
Apa dia peduli apa yang ku rasakan?
Sakit ini?
Ku rasa tidak.

Hanya pada malam tempatku curahkan segala apa yang ku rasa.
Hanya malam yang mengerti.
Karena kita sama.
Sama-sama bertahan dalam kegelapan yang semu, namun nyata.

Mei 11, 2014

Perpisahan?

Hai sahabat MulmediOn, ntah kenapa, ingin rasanya aku mengingat kembali apa yang pernah kita lakukan. Kita pernah sama-sama mendengar celaan, kita dijatuhkan, kita diremehkan, kita dianggap sebagai kelas yang sangat-sangat mengerikan. Kita suka protes, kita suka tak puas, dan kita seringkali berontak pada hal-hal yang membuat kita tidak nyaman.

Awal masuk, kita mempunyai wali kelas yang super sabar, Ibu Aliyatul Fikria, Bu Al mengajarkan kita bagaimana cara menghadapi suatu masalah dengan tegar, hanya dengan diam dan tunjukkan! Ingatkah kita saat kita mendapatkan seorang guru produktif yang ternyata bukan ahli dibidangnya? Betapa kecewanya kita saat itu, tapi semua itu mengajarkan kita bahwa masih banyak hal-hal yang memang harus kita kenal bahkan tak sejalan sekalipun.

Semua kesabaran, membawa kita ke tingkat cobaan yang lebih tinggi. Setahun berlalu dan tahun ke-dua kita bersama-sama, dengan wali kelas yang masih sama :)
Semua cobaan yang ada membawa kita pada kekompakan yang terjalin begitu saja, tanpa paksaan. Suatu masalah mencoba memecah suasana kelas yang membaik, perpecahan pada setiap kelompok dalam satu kelas mencoba menghalangi perubahan pada kebaikan. Namun, tak ada yang memang harus terpecahkan, kita tetap satu kesatuan. Dan itu banyak mengajarkan kita bahwa dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, kita tetap satu, keadaan tak mungkin mengendalikan kita, justru kitalah yang harus mengendalikan keadaan. Good job!

Dan seakan kita tak pernah ingin agar waktu cepat bergulir, membawa kita semakin dekat pada kata "PERPISAHAN". Tahunke-tiga membawa perubahan signifikan, cobaan yang harus kita hadapi, walau berat untuk kita, terberat untuk kita, yakinkan kita bisa!
Wali kelas kita kali ini adalah seorang Bapak yang sangat berpegang teguh pada ajaran Agama, walau beliau lebih ahli dibidang Bahasa Inggris, Bapak Kamaludin, S.Ag, S.Pd.Ing
Entah apa yang telah kita lakukan hingga ada oknum tertentu yang berusaha menjatuhkan kita. Salahkah kita jika kita melakukan perubahan demi kebaikan kita? Kurasa itu adalah hal yang wajar.
Beberapa kebaikan, beberapa prestasi telah mengangkat kita dari julukan "Kelas Mengerikan", dan tentunya tak lepas dari mereka-mereka yang lebih senang kita terjatuh.

Ingatkah kalian, saat kita sama-sama berjuang untuk suatu rencana yang telah kita siapkan? Begitu banyaknya tantangan yang harus kita hadapi, mulai dari salah paham hingga salah beneran? Mereka kembali tertawa pada hal yang hampir membuat kita terjatuh, tapi Bapak kita semua, Bapak yang tegas dalam sikapnya, dengan santai beliau merenangkan bahwa "KITA TIDAK BERSALAH", ku kira, dan mungkin kalian semua mengira, bahwa Bapak yang sangat tegas itu juga akan memarahi kita, tapi nyatanya, dibalik sikapnya yang penuh dengan hal-hal tak terduga, beliau memberi dorongan agar kita tak kembali terjatuh. Tentunya kalian ingat bagaimana bijaksananya beliau membela kita dihadapan oknum-oknum yang berbahagia? Dan tetes air mata tak dapat kita bendung, satu kenangan, kita menangis bersama-sama dalam keadaan yang hampir membuat kita terjatuh, hanya karena pembelaan dari Sang Wali Kelas kita Tercinta.

Terlalu banyak hal yang membuat kita merasa berat untuk harus berpisah. Tapi yakinlah, kebahagiaan kalian, kesuksesan kalian telah menjemput kalian di luar sana. Kebersamaan kita hanya akan mengantarkan kita pada kesuksesan, karena terlalu banyak pembelajaran yang telah kita dapatkan tiga tahun ini.

Kita sama sekali tidak berpisah, kenangan-kenangan itu akan membuat kita selamanya bersama, terlarut dalam hal-hal yang akan kalian rindukan.
Berikan kesan bahwa kita bisa menjadi lebih baik nantinya jika kita akan bertemu di tempat dan waktu tak terduga. Kelak kalian kan memasang wajah kaget ketika bertemu satu sama lain, dan itulah kerinduan yang sesungguhnya! :)

We are the best of the best
Kalian luar biasa {} I Love You all...

Bertahan? - IYA!

Saat hati berbicara tentang apa yang kurasakan, seakan mulut terkunci rapat-rapat, enggan mengungkap kata yang telah tersusun, selalu, dan selalu begitu.
Terkadang aku tak mengerti tentang diriku, kata orang, aku sangat bersahabat dengan kata-kata, dengan mudahnya mengubahnya menjadi kata-kata indah, bermakna, tapi entah jika hatiku yang meminta untuk mengatakan apa yang kurasa, semua percuma, seakan kata-kata telah tercekat pada tekak.

Aku tau, masalah datang untuk menguatkan, untuk mengubah semua menjadi lebih baik, itu pintaku. Tak ada yang bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi, Dan tak ada yang bisa mengubahnya.

Seseorang boleh saja berpendapat, tapi setiap orang berhak untuk berubah. Mungkin hanya aku, yaa hanya aku yang selalu mengartikan sesuatu dengan mendalam hingga membuat hatiku selalu merasakan hal yang sama.

Ketika mereka bertanya "Bertahan?", ada keraguan dimatanya, namun ada keyakinan pada hatiku untuk mengatakan "IYA!". Aku tau apa yang kurasakan, dan aku mengerti apa yang mereka ketahui. Namun tak mereka sadari bahwa semua itu kan berujung sia-sia, masalah yang dulu pernah ada, akan selamanya membuat hati mereka ragu akan perubahan yang ada.

Bukankah waktu mengajarkan kita untuk selalu dewasa dan lebih dewasa? Tapi nyatanya, mereka tak mampu melihat keadaan yang berbeda, yaa mungkin karena sibuk mengungkit masalah yang telah lalu. Menjadikannya masalah yang abadi, miris!

Seringkali aku berada pada posisi yang sama. Mendengar sesuatu yang seringkali ku dengar, namun, rupanya hatiku terlalu rapuh, dan sampai saat ini aku tak bisa membuatnya menjadi hal yang semestinya ku dengar dari mulut-mulut orang yang tak mudah membaca keadaan. Lalu apa yang harus kulakukan? Menuruti kata mereka? Aku masih punya hati yang sehat, bahkan aku tak bisa menjadi seperti mereka yang dengan mudahnya menjatuhkan sesamanya dalam satu keadaan.

Aku berusaha meyakinkan hatiku, apa yang pernah buatku meneteskan air mata, harus menjadi apa yang membuatku bahagia, suatu saat nanti. Dan itu adalah dia. Bukan maksud mendahului kehendak-Nya, hanya saja, aku merasa hati ini benar-benar merasakan kenyamanan saat dengannya, dan bukan seperti apa yang mereka katakan.

April 08, 2014

About MulmediOn

          Hai sahabat blogger dimanapun berada, lama tak mengungkap kata, kali ini saya ingin menceritakan kisah suka, duka, bahagia dan airmata. ~

Aku tak pernah membayangkan akan terjadi perpisahan saat aku berada dalam tengah-tengah kenyamanan, memang butuh waktu untuk bisa merasakan kebersamaan yang sesungguhnya, dan waktu pula yang kan mengambil semua itu, siap atau tidaknya kita. Kehilangan memang hal yang memang sering terjadi pada setiap dari kita, karena apa yang kita punya takkan bisa kita miliki selamanya. Seperti hidup ini, suatu saat juga akan berakhir bukan?

Aku masih ingat betul bagaimana suasana kelas saat aku baru memasuki pintu, kalian hanya seorang asing bagiku, seseorang yang tak pernah kukenal sebelumnya, dan tak sedikit diantara kalian yang hanya mengobrol dengan teman dari SMP / MTS yang sama. Dan tak jauh beda dariku, hanya teman sebangku yang memang dari SMP yang sama, dan kalian berdua yang duduk di bangku belakangku.

Namun tak seberapa lama kurasakan sunyi dalam ruang kelas itu, kita membaur jadi satu, bercanda tawa, berbagi kisah. Kalian adalah teman terbaik yang pernah kupunya. Memang, dalam kebersamaan, tak bisa dihindari sebuah konflik dan perpecahan. Itu pasti terjadi entah karena apa, kita pernah marah dalam batin, marah dengan dendam, kita pernah hampir menjadi musuh dalam kedamaian, namun naluri persaudaraan yang kuat mampu membentengi kita dari hal-hal yang memang tak seharusnya terjadi. Kalian luar biasa.

Kawan, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, terlalu banyak kisah yang kita jalani bersama, semakin kita mengenal karakter dan sifat masing-masing, semakin kita tak akan pernah bisa melupakan satu sama lain. Banyak kata tak mungkin kan membuat sebuah perpisahan ini terhenti. Namun setidaknya, kita tetap menyatu dalam rangkaian kata-kata yang mungkin tak berarti apa-apa, ingatlah kawan, perpisahan tak membuat kita untuk tak lagi berteman, perpisahan tak membuat kita untuk tak saling mengenal, kalian tetap kalian, kita tetaplah kita. :)



Kan Tetap Terkenang
by: @abamas_balyas
editor by: @dhien1995 
supported by: @arMuMed
"Beranjak tahun, kita semakin tau apa yang sebelumnya tak pernah kita tau.
Semakin tahun, seiring berjalannya waktu, semakin bertambah kedewasaan kita.
Bertambah pula ilmu-ilmu yang kita terima.
Dan kedewasaan yang membuat kita berusaha untuk tetap bersatu. 

Pada akhirnya, kini telah di unjung jalan untuk sebuah perpisahan. 
Tetapi kuharap, jangan pernah melupakan masa lalu.
Masa dimana kita ukir bahagia dan airmata bersama-sama. 

Kita memang tak pernah bisa melawan sebuah perpisahan.
Tapi kita bisa melewati bersama-sama.
Tetaplah semangat untuk sebuah kesuksesan.
Kelak kita kan raih bersama keberhasilan. 

Kita memang akan berpisah.
Tapi waktu-waktu yang pernah kita lewati bersama, takkan pernah bisa membuat kita lupa.
Semoga kita tak akan pernah berhenti bersahabat sampai akhir hayat"

Maret 09, 2014

Past - Present - Future

Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Kali ini, saya terinspirasi dari orang-orang yang berjalan. Jangan kaget, mungkin tak semua orang memperhatikan dengan detail saat ada seseorang yang berjalan di depan kalian. "Ya iyalah, kurang kerjaan banget ngeliatin orang jalan sampai detail!!", hehe, mungkin kurang lebihnya seperti itu tanggapan sahabat semua. Pasti sahabat semua bertanya-tanya, apasih yang diperhatikan saat orang berjalan? Cara jalan? Pakaian? Rambut? Wajah? Aksesoris? Tidak! Yang perlu sahabat semua perhatikan adalah arah berjalan mereka. Samping? Depan? Belakang? Yaa, sahabat semua tahulah arah jalan pada umumnya.

Nah, setelah saya fikirkan hingga detail, ternyata arah jalan itu juga mempunyai filosofi loo. Pada umumnya, arah jalan semua orang adalah ke depan. Pada umumnya yaa, bukan yang lagi olahraga atau yang lain, hehe. Itu menggambarkan bahwa hidup ini adalah untuk maju ke depan, bukan mundur ke belakang, apalagi serong kanan kiri, wkwk. Bener nggak?

Buat yang masih suka flashback ni, nggak ada salahnya sih, tapi jangan sampai nyeselin aja, nggak ada guna. Ngomong-ngomong tentang flashback, ada hal yang juga mempunyai filosofi loo. Pasti sahabat semua tau kan simbol lalu lintas yang ada tulisan "Dilarang Putar Balik", hehe pasti udah pada nebak maksud filosofinyaa, yayaya. Seperti ini... hehehe--v


Tapi, nggak jauh dari itu, pasti ada simbol yang sama, tapi nggak ada tulisannya yang berarti kita boleh putar balik di potongan jalan itu. Nah, hubungannya sama kehidupan kita itu, ada saat dimana kita benar-benar harus melupakan, tak lagi mengingat, dan ada saat dimana kita merindukan dan mungkin sebagai pembelajaran hidup kita ke depannya. Dan semua itu adalah pilihan. Jika sahabat semua ingin selamat, patuhi simbolnya. Begitu juga, jika sahabat ingin bahagia, jangan kembali pada masa lalu saat dimana air mata mengalir, namun jika sahabat semua hanya ingin bercermin pada masa lalu agar tak lagi terulang, bolehlah, karena tak sepenuhnya masa lalu harus dilupakan, namun juga harus bisa menjadi pembelajaran.

Pada intinya, hidup adalah untuk terus maju ke depan, jika lelah, berhentilah, jangan pernah kembali lagi ke belakang karena hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga kita. Seperti halnya jam dinding atau jam tangan. Bukankah arah jarum jamnya selalu berputar ke arah kanan? Itu berarti waktu terus berjalan ke depan, sama seperti kehidupan kita. 


Kenapa lampu lalu lintas hanya terdiri dari tiga lampu dengan tiga warna yang berbeda? Karena dalam kehidupan kita juga hanya terdapat tiga unsur yang masing-masing unsur mempunyai arti yang berbeda. Past - Present - Future

Cukup sekian yang bisa saya bagikan pada sobat semua, sampai jumpa di lain inspirasi. :)
Hidup adalah untuk masa lalu berjalan menuju masa depan!!

Maret 01, 2014

Hanya Bersamamu

Hal yang membuatku selalu tersenyum tanpa bisa kujelaskan mengapa? Hal yang selalu membuatku bertanya-tanya tanpa dengan kata apa? Hal yang selalu membuatku mengerti tanpa harus bertanya bagaimana?

Hal yang selalu memberiku jawaban tanpa pertanyaan, menjelaskan tanpa alasan, membuat semua terjadi dengan natural tanpa kesengajaan.

Hanya senyum dengan titik kecil yang membekas pada pipimu, bisa membuat senyumku terus mengembang dan tak bisa kutahan. Bahkan kau mampu ciptakan suasana yang seringkali kurindukan. Hanya dengan tingkah bodohmu itu, bisa menghipnotis sang waktu untuk ikut tertawa bersama kita. Hadirkan sejuta bahagia yang tak kan pernah terlupa.

Kurasa, hanya bersamamu. Bisa kurasakan suasana yang selalu kurindukan. Hanya bersamamu, kurasakan sang waktu damai dalam bahagianya. Kurasakan hal terindah dalam hidupku yang walaupun semua itu kan menjadi kenangan dalam sedetik waktu berlalu, namun takkan pernah hilang dari memori dan hati kecilku.

Terimakasih sayang, atas apa yang kau berikan selama ini. Canda tawa, kebahagiaan, kesedihan, bahkan air mata. Semua yang terjadi dalam hidupku karenamu, kan kubingkai indah dengan goresan tinta yang takkan pernah terhapuskan dalam ruang yang takkan pernah termakan waktu. Hanya bersamamu, luka dan bahagiaku kurasakan senada dengan lantunan sang waktu. Hanya denganmu, kutitipkan kasih sayang, cinta, dan rinduku. Dan hanya kamu, seseorang dengan sejuta kenangan yang selalu ada dalam ruang hati kecilku. :)

Februari 26, 2014

Dipihak Sang Waktu

Seringkali kutau, mereka yang istimewa, atau bahkan teristimewa. Terkadang aku ingin menjadi mereka yang dipihak waktu. Aku ingin merasakan jadi seseorang yang berharga, yang istimewa. Bukan. Bukan ku ingin diperlakukan seperti itu, hanya saja, aku ingin mendapatkan hal kecil dengan pengorbanan yang luar biasa. Istimewa bukan? :')

Yaa, kutau, tak mungkin seseorang berkata bahwa ia tlah berkorban, berjuang, dan sebagainya. Dan mungkin aku yang tak pernah melihat pengorbanan yang begitu nyata. Pengorbanan yang kan kuingat sebagai hal terindah dalam hidupku.

Seperti mereka yang selalu dipihak sang waktu. Merasakan betapa hidup mereka dianggap penting dan istimewa.

Salahkah jika aku ingin merasakan hal yang sama? Namun kapan waktu kan berpihak padaku, pada hasratku, pada hal kecil yang selalu kunantikan?

Dalam senyum kecilku, ku berjuang untuk slalu menjadikan diriku, kehadiranku, menjadi seseorang yang selalu dirindukan waktu, menjadikanku orang terspesial dalam hidupku sendiri.

"Tuhan, kutau rencana-Mu sungguh indah untuk hamba-Mu. Satu pintaku saat ini Tuhan, izinkan dia memberikan hal kecil yang selama ini kunantikan. Pengganti rasa penantianku atas pengorbanan yang takkan pernah kulupakan. Mengukir kejadian luar biasa yang kubingkai dalam goresan kata kenangan". :')

Februari 16, 2014

PHP dan Hati yang Kuat

Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Pagi-pagi gini gatau kenapa aku ingin berbagi sama sahabat semua. Berbagi nggak kenal waktu kaan, hehe.

Kali ini, aku pingin membahas soal korban PHP, patah hati, dan kawan-kawannya. Nahlo, yang lagi ngalamin, semoga lekas sembuh yaa (^_^)v hehe.

Berbicara soal PHP, siapa sih remaja masa kini yang nggak tau istilah itu? Pasti sudah kenalan semua kaan :3, nggak tau dari mana, siapa, dan gimana kejadian asalnya, istilah PHP tersebar secara cepat di dunia maya. Pertanyaannya satu, sebenernya siapa yang MeHP (Memberi Harapan Palsu) dan siapa yang ke-GRan siih? Wkwk--v, cuma bercanda yaa..

Oke balik, korban PHP itu pasti berujung pada yang namanya sakit hati dan patah hati. Kog bisa? Ya bisa banget dong yaa. Kita udah lama-lama dibuat nge-fly, terbang hingga langit ke tujuh *oke alay*, terus gitu, nyampek sana gadapet kepastian apa-apa, cuma dapet capek doang, udah gitu dihempasin lagi ke bumi sampek bawah tanah, jlebbb! Gila sakit banget. *geleng-geleng kepala* --v

Hehe, ibarat tari piring, awalnya seneng, lama-lama si dia capek dan ngehempasin piringnya sampai pecah, pyar! Yang kasian siapa? Lantainya tuuh, haha--v

Pasti sakit banget deh tuh. Nah, biar ngga dianggep korban PHP terus, sekali-kali MeHP boleh tuh *jangan dilakukan*.

Ngga ada hal yang bisa ngebuat piring itu kembali seperti semula kan? Diapain jugak pasti masih ada bekas retaknya.

Satu-satunya cara, ya cuma ikhlasin aja, buang piring yang udah pecah, ambil piring baru. Abis itu, jaga baik-baik jangan sampai pecah keduakalinya.

Remaja sekarang gitu sih, abis patah hati, langsung kayak kran air yang diputer terus 3 hari 3 malam, banjir men! Emang bisa utuh lagi? Yang ada malah kelopak mata tuh kayak abis disengat lebah.

Hidup ini pembelajaran. Nggak ada yang mau kan? Jatuh di lubang yang sama?

Para PHP itu nggak akan berhenti selama korban-korbannya masih bisa netesin air mata. Makin seneng yang ada, untuk PHP sejati loh yaa.

Sebenernya, kalo hati udah patah gitu, lebih kuat dr sebelumnya loo. Itu kalo yang percaya bahwa, permasalahan ada untuk membuat kita jadi lebih baik. Rumput yang diinjak-injak juga masih bisa bertahan kog. Air hujan yang dijatuhin dari atas juga masih bisa ngebuat anak kecil tersenyum.

Jangan berfikir "iyalah orang benda mati dan gapunyak perasaan". Eiits, jangan salah, sebenernya mereka juga makhluk hidup, sama-sama ciptaan Tuhan. Hanya saja, Tuhan memang ciptakan mereka sbg makhluk yang kuat.

Sekarang, stop mengeluh, stop menyerah, yang terpenting, stop buat membenci siapapun yg udah nyakitin sahabat semua.
Karena orang yang suka nyakitin orang lain, terkadang hidupnya juga suka disakitin orang lain jugak. Tunjukin ajadeh ke mereka, kalian lebih kuat dr mereka. Tp jangan lampiaskan sakit kalian ke orang lain jugak -_-, sama aja boong dong.

Be strong guys! Jadilah seperti apa yang tidak mereka pikirkan, membalas dendam yang paling baik adalah membuktikan pada mereka, kita masih bisa tersenyum meski mereka berusaha melukai kita. Ikhlas adalah jalan yang terbaik. :)

Februari 13, 2014

Diam Bukanlah Sebuah Jawaban

Dalam hidup ini seringkali kita dihadapkan pada berbagai macam keadaan. Keadaan yang mampu membuat kita semakin mengerti tentang hidup, mengajarkan kita tentang rasa sakit, dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

Sabahat blogger pasti pernah mengalami berbagai macam persoalan hidup hingga yang terberat sekalipun, namun bagaimana cara sahabat semua menerima dan menyelesaikannya?

Hmm, berbagi sedikit tentang kisahku yaa, hehe. Aku pernah dihadapkan pada persoalan yang sangat membuat telingaku risih, mendengar hal-hal yang seharusnya tak ingin kudengar setiap saat. Sakit. Namun itu adanya.

Dan perlu sahabat semua tau, bahwa kita seringkali menemukan kata-kata "Diam Adalah Emas", namun maknanya bukan seperti apa yang kita baca.

Kita tak pernah bisa menyelesaikan persoalan dengan sebuah emas bukan? Tentu tidak. Diam adalah emas adalah istilah untuk kita bisa menjaga lisan kita yang terkadang tak terkendali, berbicara yang tak perlu dibicarakan, melebih-lebihkan keadaan yang ada, dan lain sebagainya.

Namun, dalam mengatasi sebuah persoalan, DIAM BUKANLAH SEBUAH JAWABAN!

Yaa, persoalan tak pernah usai jika kita hanya memendam, memendam, dan selalu memendam. Banyak hal yang harus diungkapkan untuk bisa menemukan suatu kebenaran.

Nah sahabat blogger, sekarang tergantung bagaimana sahabat semua mengatasi berbagai persoalan yang ada. Akankah selalu memendam atau ungkapkan dan selesaikan?!

Februari 11, 2014

Tentang Sang Waktu

Tak ada yang tau apa yang kurasa, saat hadirmu juga hadirkan sejuta tawa, cinta dan air mata. Aku juga pernah merasakan hal yang sama, namun kurasa pada orang yang salah. Namun sekarang, yang kurasakan adalah benar-benar nyata.

Kau hadir dalam setiap saat kurasa bahagia, juga dalam ku terlarut dalam duka. Kau adalah sosok yang mampu buatku seperti bintang dalam malam, namun kau tak pernah membuatku merasa kau adalah siang.

Kini ku tau, mengapa Tuhan ciptakan waktu. Itu agar aku bisa mengenalmu, bersamamu dalam setiap waktuku. Aku percaya, setiap apa yang membuat air mataku terjatuh karenamu, akan jadi hal terindah suatu saat nanti, karenamu juga.

Kau percaya? Bahkan saat waktu sempat membuatmu menyakitiku, membuat air mataku terjatuh, mengalir, saat itu juga ku percayakan pada waktu, ia akan mengubah segalanya menjadi sebuah pelangi, lebih berwarna suatu saat nanti.

Tak peduli orang lain berkata apapun tentangmu, telingaku tlah berhasil bersahabat dengan angin yang terkadang sejenak melukai hatiku. Hanya bermodalkan kepercayaan hatiku yang meyakinkanku bahwa aku menyayangimu. Menyayangimu. :)

Lidahmu Bumerangmu

Tak ada yang pernah tau seperti apa jalan Tuhan. Apa yang akan terjadi, dan apa yang kita rasakan. Sebenarnya ada yang kita tau, bahwa seringkali kita menyakiti orang lain dengan perkataan. Namun sadarkah kita bahwa kita tlah menjadi duri-duri yang amat tajam?

Hmm, seringkali telingaku membuat sakit hatiku sendiri atas apa yang ku dengar, namun aku hanya bisa tersenyum saat ku tau jika aku membalas, aku akan menjadi duri yang sama, menyakiti.

Aku pernah larut dalam kesedihan, namun yang kuterima hanyalah cacian, hinaan, dan semua yang semakin membuatku tak habis fikir dengan apa yang mereka katakan. Tahu pastikah mereka dengan apa yang tlah mereka katakan? Bisakah mereka menjamin kebenaran?

Seperti yang kukatakan di awal, tak ada yang tau jalan Tuhan. Sebagai contoh, hidupku sendiri, aku tak pernah tau mengapa semua bisa terjadi? Saat mereka mengatakan sesuatu yang tak pasti mereka tau dan pasti menyakiti hatiku, aku hanya bisa berharap Tuhan sadarkan mereka suatu saat nanti. Saat itulah Tuhan siapkan waktu untuk mengingatkan mereka. Dan saat waktu itu tiba, barulah mereka merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Bukan maksud hati membalaskan rasa sakit. Hanya saja, Tuhan itu adil.

Hidup ini adalah jalan yang sesungguhnya akan diperhitungkan, dipertanggungjawabkan. Kelak kita semua akan mempertanggungjawabkan perkataan kita di hadapan-Nya.

Aku hanya manusia biasa yang hanya bisa berbagi tentang apa yang ku alami. Nah, sahabat blogger, semoga dengan ini, kita sama-sama tersadar bahwa sesuatu yang sebenarnya tersembunyi, ternyata adalah bagian yang paling tajam jika sudah tak bisa lagi tertahan.

Apa yang berdampak pada dirimu, adalah apa yang memang seharusnya kau terima setelah apa yang tlah kau lakukan. :)

Januari 31, 2014

Man Lam Yadzud Lam Yadri

Tak pernah ada cahaya yang tak pernah padam.
Bintangpun akan terkalahkan oleh datangnya siang.
Tapi ada, cahaya yang selalu bersinar.
Namun apaa?

Aku sering berada dalam situasi yang sekarang sedang ku hadapi. Aku sering merasakan bagaimana terhempaskan layaknya histeria. Sama, tak berbeda. Namun kenapa? Hati ini tetap tak semudah itu menerima? Siapa yang seharusnya mengerti akan semua? Siapa yang seharusnya memahami?

Semua orang berkata "kau bodoh, kau tolol, kau lemah", tapi apa mereka tau bahwa sebenarnya aku berusaha untuk kuat? Ini caraku. Dan aku yang tau akan hatiku.

Saat aku dibuat senang olehnya, saat itu pula air mataku berlomba-lomba membasahi pipiku setelahnya. Keadaan ini sering ku temui setaun yang lalu. Cukup lama memang, namun sekarang kembali terjadi untuk pertama kalinya. Aku ingin mengungkapkan maksud dan keinginanku semuanya, melampiaskan semua kata-kata yang tlah tersusun dalam hati ini. Tapi semua itu tertahan oleh perasaan bahwa "aku tak ingin melukai hatinya". Memang gila, sangat gila! Aku tak pernah bisa melampiaskan kata-kata yang sekiranya akan membuatnnya memikirkan sesuatu yang tak kan berujung.

Aku tau bagaimana rasanya memikirkan sesuatu yang seharusnya tak harus menjadi beban pikiranku, seperti saat ini. Dan itu, aku tak ingin membuatnya merasakan hal yang sama. Mereka tak kan pernah tau bagaimana caraku berfikir dan bagaimana caraku menghadapi keadaan seperti ini. Yang mereka tau, aku bodoh, aku tolol, dan aku lemah. Aku yang selalu berusaha menjaga hati dan perasaannya dan tak pernah pedulikan betapa sakit yang kurasakan karenanya. Karna apa? Karna aku takkan pernah membiarkan dua hati itu terluka, tak pernah ada celah jika kedua hati itu merasakan hal yang sama.

Hatiku yang lebih dulu merasakan luka itu, maka aku takkan membuat hatinya merasakan yang sama. Aku hanya berharap, hatinya akan membuat hatiku kembali seperti saat sebelum hatiku memaksa air mataku membasahi pipiku.

Justru ini caraku untuk berusaha kuat, saat aku tak pernah bisa melampiaskan kata-kata dalam hatiku, aku yakin, hatinya kan mengetahui apa yang tersimpan dalam hati ini, suatu saat nanti.

Tak semua bisa terungkap dengan mudah, begitu saja. Akan ada waktu untuk membuat sesuatu itu lebih baik, dan akan menjadi lebih baik saat mengetahui apa yang tlah lama terpendam. Karena itu bisa menjadi sebuah pembelajaran.

Man lam yadzud lam yadri, yang tidak merasakan tidak tau. :')

Januari 19, 2014

Tak Seringan Mata Melihat Tak Seberat Bahu Memikul

Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Kali ini ntah kenapa, saya bisa terinspirasi oleh "styrofoam", benda yang cukup berbahaya, namun sering juga dipakai untuk menyajikan makanan. Hmm, langsung ajadeh, cekidoot!!

Dimata sobat semua, pasti yang namanya styrofoam itu sangat ringan bukan? Bahkan hanya membawa 200 styrofoam yang dikemas dalam satu kantong plastik besar pun lebih ringan daripada harus membawa 3 kg LPG, benar tidak? Iyadong pastinya. Nah, sobat semua pernah berfikir nggak, kalau sebenernya 200 styrofoam itu berat? Seperti ini...

Ada percakapan antara dua orang, ibaratnya X adalah pengemudi sepeda motor, dan Y adalah penumpang sepeda motor yang membawa 200 styrofoam dalam satu kantong plastik besar.
X : "Kamu yakin kuat bawak styrofoam sebanyak itu?"
Y : "Iyalah, orang cuman segini doang, ringan ini mah."

X : "Okelah, yakin kuat yaa!" (sambil menaikkan kecepatan laju sepeda motornya)
Y : "Eh yang bener aja, berat nih!"
X : "Katanya tadi ringan dan yakin kuat? Kok bilang berat sekarang?"
Y : "!@#$%^?"
Nah, sekarang baru terfikir kan kalau styrofoam itu berat? Hehe.. Tapi bukan itu maksudnya. Lanjut yuuk!!

Sobat, dalam hidup ini pasti ada begitu banyak hal yang memberikan pelajaran bagi kita. Contohnya ya tentang styrofoam tadi, secara tidak langsung semua itu menunjukkan bahwa hal yang kita anggap ringan, tak selamanya akan ringan. Dalam hidup ini adalah perjalanan, dalam perjalanan itu kita akan menjumpai hal-hal lain yang membuat hal yang awalnya terasa ringan akan menjadi berat. Dan dalam styrofoam tadi, angin telah membuatnya menjadi terasa berat.

Begitupun dengan hal yang istilahnya lebih dikenal oleh remaja "Love Story", perjalanan cinta. Saat kita berada dalam fase PDKT, semua akan terasa indah, dunia hanya milik berdua *eciyeee :D. Tapi jangan terlena, itu hanya awal saat kita akan menaiki sepeda membawa styrofoam tadi.
Saat awal pacaran, masih mulus tanpa hambatan. Masih mesrah-mesrahnya niih *uhuuk. Itu masih belum ada ujian, sepeda motor masih berjalan datar.
Saat berjalan beberapa bulan atau bahkan hampir setengah atau satu tahun, mulai ada hal yang membuat awalnya indah, menjadi .... *eaaa :D, wkwk. Itulah fase saat sepeda motor mulai melaju dengan kencang dan harus berhadapan dengan angin. Dan ingat, semakin laju kendaraan kita, maka anginpun akan semakin gentar menghalangi, so keep calm guys :D.

Kebanyakan remaja nih ya, kalau ada suatu masalah yang sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan logika, lebih memilih menghadirkan kata "Loe Gue End", nahlo bahasa alayen, wkwk. Putus! Tapi saat itu, udah gak smsan, gak callingan, gak mention, blokir fb, duh parah. Ujung-ujungnya kalo ngerasa kehilangan juga balikan. Bukan gitu caranya main cinta yang bener. Gua ajarin yaa *ehheem :p.

Dari toko beli styrofoam, pasti tujuannya ke rumah kan? Tapi masak iya kayak jin yang hilang dan langsung nyampek rumah :D, it's really impossible! Pasti ada perjalanannya jugak dong?
Kalupun kisah sobat semua mengalami hambatan dan rintangan yang berat, itu wajar kog. Tinggal sobat semua gimana hadapi hambatan dan rintangan itu. Kembali lagi, semakin laju kendaraan kita, maka anginpun akan semakin gentar menghalangi. Maksudnya, semakin sobat dan pasangan saling egois, takkan pernah deh sobat temuin jalan keluar. Solusinya, bicara baik-baik, jangan hanya hubungan lagi baik doang bisa ngomongnya baik, mesrah gitu. Saat ngadepin masalah jugak dong, biar fair. Dan nggak selamanya juga styrofoam itu terasa berat, pengemudi juga akan menurunkan kecepatan dong pastinya, sampai ke rumah dengan kondisi yang "Alhamdulillah", selamat maksudnya :D.

Intinya, jangan menilai semua itu bakal indah, semua itu mudah. Tapi nilailah setiap masalah, hambatan, rintangan untuk menjadi bekal hidup sobat semua bisa seperti yang benar-benar diinginkan. Semua itu pembelajaran dan perjalanan. Ambil setiap hikmah, Insya' Allah your love stories will more beautifull :) *kesedak sandwich*, wkwkwk.

Love Your Life, guys! ;)

Januari 11, 2014

Kebodohan Logika Ketulusan Hati

Aku pernah berada dalam keadaan yang membuatku berfikir tentang dua hal. Mempercayai logika atau hati? Aku mengerti apa yang dikata, adalah sesuatu yang membuatku berfikir tentang suatu kebodohan. Tapi bukankah kebodohan itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan sebuah ketulusan? Sebenarnya, siapa yang bodoh dan siapa yang terlalu berambisi untuk mengerti?

Aku memang ingin merasakan menjadi seperti mereka, menjadi yang selalu diutamakan. Tapi aku sadar, semua itu bukan jalanku dan bukan saatnya untukku mengharapkan semua itu terjadi dalam hidupku. Cerita ini masih panjang. Kenapa semua hanya bisa berfikir kesenangan dan kepuasan untuk saat ini? Bukankah itu hanya nafsu semata? Tapi bukan itu tujuanku!

Bukan ku tak mau menerima kata-kata yang selalu ditiupkan itu, aku mengerti, dan aku paham. Hanya saja, si peniup itu yang tak pernah mengerti akan sikapku selama ini. Aku bukan seseorang yang mudah membenarkan semua, memang tidak ada salahnya, tapi semua itu ber-tapi. Hanya aku, (mungkin) dia, dan Allah yang tau.

Secara logika, memang semua itu benar adanya, itu nyata, tak berbeda sama sekali dan aku mengerti. Tapi, semua itu hanya penilaian tentang logika, bukan hati. Sebuah suling hanya bisa melepaskan nada ke udara tanpa bisa menyerap kembali maknanya, hingga nada itu terserap oleh keberadaan hati yang sedang sepi. Memang indah, namun mungkin tidak begitu ketika hati menerjemahkan segalanya.

Cinta ini tak menuntut untuk menjadi yang sempurna. Karena butuh perjalanan panjang untuk bisa meraih kesempurnaan. Dan tentu tidak mudah. Hanya dengan sebuah kepercayaan yang bermodalkan ketulusan dan keikhlasan, itu bagian dari kesempurnaan. Hanya menunggu Allah menjawab semuanya.

Ini aku dan hatiku yang tak bisa membohongi rasa yang tersimpan selama ini. Walau berat yang ku dengar, tapi dengan hati ini aku bertahan. Mengukir segala kekuatan hingga melukis senyuman bersama kebahagiaan yang sedang disiapkan. Oleh-Nya.

Akal & Hati

Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Sudah sebulan lebih nih saya nggak update postingan, hehe. Maklumlah, waktu tak ada dan katapun tak tersedia, hihihi. Sahabat blogger, sebulan ini saya sedikit mengerti hubungan akal dengan hati. Dan itulah yang menjadi bahan postingan saya kali ini. Langsung ajadeh, hehe...


Nah sobat, ternyata dua hal ini adalah unsur yang penting untuk membentuk suatu kepribadian seseorang. Bukan hanya pintar karena seringnya otak bekerja, namun juga harus diimbangi dengan hati yang seringkali dilupakan dalam mengatasi suatu pemikiran. Jika diibaratkan, sebuah ruangan yang gelap dan lampu penerangan, maka ruangan itu adalah akal, sedang lampu penerangan adalah hati.

Ada dua pernyataan, nah manakah menurut sobat yang benar?
1. Akal mempengaruhi hati.
2. Akal dipengaruhi hati.

Menurut pendapat saya, pernyataan yang kedua lebih bisa diterima daripada yang pertama. Bukan yang pertama itu salah, namun semua tergantung bagaimana seseorang berfikir. Pada dasarnya, ruangan yang gelap akan tetap gelap jika memang dibiarkan gelap. Namun bisa kan untuk meneranginya dengan lampu penerangan? Kurang lebih seperti itu gambarannya, hehe.

Jika seseorang itu lebih dulu berfikir dengan hatinya, mungkin sangat sedikit kemungkinan mereka salah dalam mengambil keputusan/pilihan. Mengapa? Karena hati adalah kunci. Dimana kunci itu harus mencari pintu yang cocok dengannya.

Pintu yang jika kita hanya berfikir menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati kita, maka kemungkinan saat kita membuka pintu itu, hanya ada NAFSU dibaliknya. Pintu yang lainnya, jika kita lebih dulu mengenali kuncinya Insya Allah, kunci tersebut yang akan menuntun kita pada tujuan yang kita inginkan. Karena pada dasarnya, hati adalah hakikat yang mempengaruhi keputusan akal kita.

Sebuah pembelajaran yang saya terima, bahwa manusia boleh saja berpendapat tentang orang lain, namun jangan menilai tentang kehidupannya. Karena hanya yang Maha Menciptakanlah yang mengatur semua dan berhak menilainya. Nah, semoga sobat semua bisa menarik kesimpulan sendiri dan bisa membantu untuk bisa lebih berfikir tentang yang terbaik bagi sobat semua.

Wassalamu'alaikum.
  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_