RSS
Facebook
Twitter

Desember 29, 2014

Tetes Kerinduan

Adakah yang bisa menjelaskan tentang tetes-tetes air yang menggenang di bawah kedua mataku, yang perlahan membasahi pipiku? Tetes kerinduan yang tak lagi mampu kubendung. Kubiarkan ia terurai. Karena seseorang yang selalu ingin kulihat, masih bersembunyi dalam dekapan waktu.

Adakah yang bisa menjelaskan tentang jeritan hati dengan bahasa kalbunya? Mengunci mulutku untuk berkata, hanya tertahan dalam hatiku. Aku inginkan dia saat hatiku ingin memluknya. Dalam sepi, bayangannya slalu memenuhi beranda fikiranku. Ia tersenyum seolah membuatku tegar akan jarak dan waktu yang saat ini membentang.

Ingin aku menari di bawah hujan. Agar tak seorangpun tau air mataku sedang menjelaskan tentang kerinduan yang kurasakan. Begitu dalam hingga aku mampu melukiskan kerinduanku dengan tetesan air mataku. Adakah kau tau, aku kuat karena bayang-bayang senyummu yang slalu membuat jantungku berdegup tak menentu.

Ingin aku berteriak di hamparan pasir yang luas. Agar tak seorangpun tau hatiku sedang menjelaskan bagaimana ia harus bertahan dalam kekuatan yang sebenarnya ia sangat lemah. Lemah akan kerinduan yang tak mampu dijelaskannya.


Kau pemilik kerinduan ini, dengarkanlah, aku sangat ingin berjumpa denganmu saat ini, air mataku terus mengalir sembari menunggu waktu mempertemukan kita. Hatiku menjerit tak kuasa menahan yang dirasakannya. Aku yakin kamu pasti merasakan. Dalam hati aku memeluk bayanganmu, menangkap senyummu, menggenggam tatapan matamu. Hanya itu yang mampu kulakukan untuk menahan segala rasa rinduku untukmu.

Desember 28, 2014

Ada Apa Dengan Pelangi?

Pelangi, seringkali disebut sebagai hal yang didapat setelah hujan. Ia seringkali dikaitkan oleh kesedihan. Adakah yang tau darimana pelangi berasal? Iya, itu hanya biasan cahaya oleh hujan. Lalu jika seseorang menganggap  pelangi itu adalah sebuah kebahagiaannya, akankah ia akan dapatkan kebahagiaannya selamanya? Sedangkan ia tau pelangi bisa hilang??

Aku juga pernah menganggap bahwa biasan cahaya itu sebuah kebahagiaanku, dan memang tetap menjadi kebahagiaanku, namun hanya disaat tertentu, bukan sebagai kebahagiaan setiap waktuku. Biasan cahaya itu kujadikan tolak ukur bagaimana aku harus menghargai hujan. Suatu hal yang terkadang menghadirkan sebuah kerinduan.


Namun aku akan tetap slalu mengingat dimana aku pernah menjadi pelangi untuk seseorang, dan sekarang pelangi itu benar-benar menghilang dari hidupnya. Biasan cahaya yang memang tak bisa memberikan kebahagiaan seutuhnya. Karena kita takkan bisa mengenggam air tanpa menumpahkannya kebawah, dan tak mungkin bisa mengenggam pasir tanpa membuatnya bertaburan terbawa angin. Kita bisa memiliki apa yang ingin kita miliki, tapi harus juga kita sadari bahwa waktu dapat mengambilnya kapanpun. Seperti halnya mentari yang bersembunyi dalam malam, dan bintang yang hilang ditelan sapaan pagi.

Desember 17, 2014

Bersama Hujan

Bersama hujan kulukiskan segala apa yang kurasa saat ini, tentang hatiku, tentang kamu. Aku tak pernah menyangka aku dapat bangkit dari jeratan masa laluku, dari ketidakberdayaan hatiku tentangnya. Aku pernah membayangkan bagaimana kisahku harus berakhir, tapi aku tak yakin untuk bisa mempercayainya. Tapi, setelah kamu hadir mewarnai hari-hariku, membuatku menjalani hariku dengan senyumanku, aku percaya, bahwa Tuhan sengaja membuat kisahku berakhir agar bisa kujalani lembaran baruku bersamamu. Bersama ornag yang dipilihkan-Nya untukku.

Bersama hujan kulukiskan segala apa yang tak mampu kuungkapkan. Tentang hatiku saat bersamamu. Saat itu pula aku membayangkan seandainya saja waktu tak pernah berlalu, tak pernah membiarkan semua itu menjadi kenangan, tapi aku tak mampu hentikannya, waktu tetaplah waktu yang terus berlalu. Tanpa kusadari kenangan itu slalu hidup dalam anganku, untuk dapat sejenak mengobati rinduku saat kau jauh dariku.

Bersama hujan kulukiskan segala apa yang tak dapat kau dengar. Bisikan kata hatiku yang hanya mampu didengar sang waktu, bahwa aku merindukanmu saat ini, merindukan segala apa yang mampu membuat kita tertawa bersama. Mengertilah, aku hanya bisa berbicara pada jutaan air yang turun saat ini, dan mungkin mereka mengerti. Aku dengan segala rasa rinduku, slalu membayangkan kamu ada disampingku diantara mereka. Menyaksikan bagaimana mereka mampu turun untuk berbagi kebahagiaan pada tanah yang haus.


Dengarlah apa yang kukatakan pada hujan. Aku ingin menjadi seperti kalian, meskipun terkadang hadirku tak diharapkan, tapi aku mampu untuk ada di depannya, menyaksikan dia menatapku dalam-dalam. Mengerti bagaimana dia merindukan seseorang, cukup memandang matanya yang selalu membuatku tak pernah berhenti berfikir tentangnya. Tapi aku bukan hujan, aku tetaplah menjadi seseorang yang merindukanmu ditengah hujan.

Desember 14, 2014

Lebih Dari Bahagia

Aku takkan pernah lupakan hari itu. Hari dimana mereka menjadi saksi kebahagiaan kita, atas nama rindu yang seringkali singgah pada hati. Kebahagiaanku tak mampu terucap hanya dengan kata "aku bahagia". Tak pernah kubayangkan sebelumnya kisah cerita yang terjalin saat ini, setelah aku kau buat kecewa. Namun tak bisa kupungkiri bahwa kekecewaanku tiada arti jikalau aku menyayangimu.

Ombak tak pernah bisa menahan dirinya untuk tak ketepi, membasahi kaki yang dilintasinya, disertai jeritan bahagia yang terkasih. Iya, mereka menyaksikan bagaimana aku bahagia bersamamu, bahkan lebih.

Sempat terlintas dalam benakku fikiran yang tak mungkin bisa terjadi,"waktu, jangan berlalu", tapi memang sangat tidak mungkin, hingga ia bisa pergi, namun aku tetap berterimakasih, ia hadirkan rindu, ia pula yang sirnakannya.

Entah apa yang ingin kutuliskan agar kalian mengerti, aku bahagia bersamanya. Rasa ini tak mampu kujelaskan, namun aku rasakan lebih dari apapun. Dan mungkin kalian mengerti.


Hai yang tersayang, terima kasih sudah hadirkan rasa yang indah ini. Aku tak pernah membayangkan bagaimana Dia mempertemukan kita, dan aku tak pernah mengharapkan Dia memisahkan kita. Bahagiaku adalah saat waktu mengizinkan aku menghabiskan hariku bersamamu, meskipun mata ini tak selalu bisa melihatmu, tapi hati ini selalu rasakan ada dirimu. Jangan pernah lari, jangan pergi, karena aku menyayangimu.

Desember 04, 2014

Atas Nama Keegoisanku

Atas nama ketulusanmu, aku meminta maaf. Aku tak lebih dari seorang gadis labil yang masih butuh bimbingan. Maaf atas kata "IYA" yang tlah terucap dari mulutku, yang sekedar memberikan kebahagiaan yang singgah sejenak dalam hidupmu namun ia pergi juga karenaku. Aku tak bisa memunafikkan hatiku terlebih jika aku jatuh hati pada hati selainmu. Aku tak pernah menyalahkan rasa kecewamu, semua yang kau lakukan kepadaku kini, sungguh ikhlas hati aku menerima.

Atas nama hatimu yang terluka, sesungguhnya aku tak sanggup membuatmu merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Dalam dasar hatiku, aku menjerit atas naman kebodohan dan keegoisanku. Aku hanya seperti seorang yang tak mengerti apa itu rasa terima kasih. Tak seharusnya aku membuatmu seperti ini, sungguh hanya ada penyesalan terlebih saat kau memutuskan untuk pergi dari hidupku.

Kamu adalah serpihan rasa sakit atas keegoisan hatiku sendiri, yaa aku tau tak mudah melupakan apa yang sudah kulakukan terhadapmu, terlebih terhadap ketulusanmu. 

Yang bisa kulakukan saat ini adalah memohon pada sang Pencipta Waktu untuk segera menyembuhkan lukamu karenaku. Memohon agar lebih dikuatkan hatimu hadapi kenyataan sepahit ini. Aku tau, kalbu yang menyelimuti hatimu saat ini membuatmu buta akan kata maafku, tapi aku percaya, suatu saat nanti kau pasti bisa bangkit dari rasa sakitmu, aku berharap kamu percaya pada Janji-Nya. Satu kata yang tak kan berarti apa-apa saat ini, namun tak pernah bosan untuk terlontar dari hatiku untukmu, maaf.
  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_