Aku seakan iri melihat kedamaian sang malam.
Sepertinya mereka menikmati keheningan yang selalu mereka rasakan.
Pun seperti bintang dan bulan.
Bahkan mereka sangat menginginkan malam tiba.
Namun aku?
Terkadang aku menikmati malam yang hadir ditengah sepiku.
Hanya sekedar tuk curahkan isi hatiku.
Iya, sesuatu yang tak mungkin bisa ku ungkapkan jika malam tak datang.
Tapi tak jarang ku juga rindukan siang.
Aku membenci keheningan.
Seperti aku membenci perasaanku.
Perasaan ketika aku terlebih dahulu mengajak hatiku bersembunyi.
Tapi bersembunyi dari apa?
Bersembunyi dari siapa?
Baru ku sadari bahwa semua itu hanya egoku.
Ego bahwa aku tak suka dicampakkan.
Tak suka jika hal yang baru saja bersamaku menghilang.
Terbang bersama angan tak pastiku.
Tapi aku bersyukur semua itu terjadi.
Dari situlah aku bisa membuat hatiku lebih bersabar hadapi apapun.
Menjadi lebih tegar.
Setegar ketika malam tanpa bintang.
Sepertinya mereka menikmati keheningan yang selalu mereka rasakan.
Pun seperti bintang dan bulan.
Bahkan mereka sangat menginginkan malam tiba.
Namun aku?
Terkadang aku menikmati malam yang hadir ditengah sepiku.
Hanya sekedar tuk curahkan isi hatiku.
Iya, sesuatu yang tak mungkin bisa ku ungkapkan jika malam tak datang.
Tapi tak jarang ku juga rindukan siang.
Aku membenci keheningan.
Seperti aku membenci perasaanku.
Perasaan ketika aku terlebih dahulu mengajak hatiku bersembunyi.
Tapi bersembunyi dari apa?
Bersembunyi dari siapa?
Baru ku sadari bahwa semua itu hanya egoku.
Ego bahwa aku tak suka dicampakkan.
Tak suka jika hal yang baru saja bersamaku menghilang.
Terbang bersama angan tak pastiku.
Tapi aku bersyukur semua itu terjadi.
Dari situlah aku bisa membuat hatiku lebih bersabar hadapi apapun.
Menjadi lebih tegar.
Setegar ketika malam tanpa bintang.



0 comment:
Posting Komentar
Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .