Assalamu'alaikum, sahabat blogger. Sudah sebulan lebih nih saya nggak update postingan, hehe. Maklumlah, waktu tak ada dan katapun tak tersedia, hihihi. Sahabat blogger, sebulan ini saya sedikit mengerti hubungan akal dengan hati. Dan itulah yang menjadi bahan postingan saya kali ini. Langsung ajadeh, hehe...
Nah sobat, ternyata dua hal ini adalah unsur yang penting untuk membentuk suatu kepribadian seseorang. Bukan hanya pintar karena seringnya otak bekerja, namun juga harus diimbangi dengan hati yang seringkali dilupakan dalam mengatasi suatu pemikiran. Jika diibaratkan, sebuah ruangan yang gelap dan lampu penerangan, maka ruangan itu adalah akal, sedang lampu penerangan adalah hati.
Ada dua pernyataan, nah manakah menurut sobat yang benar?
1. Akal mempengaruhi hati.
2. Akal dipengaruhi hati.
Menurut pendapat saya, pernyataan yang kedua lebih bisa diterima daripada yang pertama. Bukan yang pertama itu salah, namun semua tergantung bagaimana seseorang berfikir. Pada dasarnya, ruangan yang gelap akan tetap gelap jika memang dibiarkan gelap. Namun bisa kan untuk meneranginya dengan lampu penerangan? Kurang lebih seperti itu gambarannya, hehe.
Jika seseorang itu lebih dulu berfikir dengan hatinya, mungkin sangat sedikit kemungkinan mereka salah dalam mengambil keputusan/pilihan. Mengapa? Karena hati adalah kunci. Dimana kunci itu harus mencari pintu yang cocok dengannya.
Pintu yang jika kita hanya berfikir menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati kita, maka kemungkinan saat kita membuka pintu itu, hanya ada NAFSU dibaliknya. Pintu yang lainnya, jika kita lebih dulu mengenali kuncinya Insya Allah, kunci tersebut yang akan menuntun kita pada tujuan yang kita inginkan. Karena pada dasarnya, hati adalah hakikat yang mempengaruhi keputusan akal kita.
Sebuah pembelajaran yang saya terima, bahwa manusia boleh saja berpendapat tentang orang lain, namun jangan menilai tentang kehidupannya. Karena hanya yang Maha Menciptakanlah yang mengatur semua dan berhak menilainya. Nah, semoga sobat semua bisa menarik kesimpulan sendiri dan bisa membantu untuk bisa lebih berfikir tentang yang terbaik bagi sobat semua.
Wassalamu'alaikum.
Ada dua pernyataan, nah manakah menurut sobat yang benar?
1. Akal mempengaruhi hati.
2. Akal dipengaruhi hati.
Menurut pendapat saya, pernyataan yang kedua lebih bisa diterima daripada yang pertama. Bukan yang pertama itu salah, namun semua tergantung bagaimana seseorang berfikir. Pada dasarnya, ruangan yang gelap akan tetap gelap jika memang dibiarkan gelap. Namun bisa kan untuk meneranginya dengan lampu penerangan? Kurang lebih seperti itu gambarannya, hehe.
Jika seseorang itu lebih dulu berfikir dengan hatinya, mungkin sangat sedikit kemungkinan mereka salah dalam mengambil keputusan/pilihan. Mengapa? Karena hati adalah kunci. Dimana kunci itu harus mencari pintu yang cocok dengannya.
Pintu yang jika kita hanya berfikir menggunakan akal tanpa mempertimbangkan hati kita, maka kemungkinan saat kita membuka pintu itu, hanya ada NAFSU dibaliknya. Pintu yang lainnya, jika kita lebih dulu mengenali kuncinya Insya Allah, kunci tersebut yang akan menuntun kita pada tujuan yang kita inginkan. Karena pada dasarnya, hati adalah hakikat yang mempengaruhi keputusan akal kita.
Sebuah pembelajaran yang saya terima, bahwa manusia boleh saja berpendapat tentang orang lain, namun jangan menilai tentang kehidupannya. Karena hanya yang Maha Menciptakanlah yang mengatur semua dan berhak menilainya. Nah, semoga sobat semua bisa menarik kesimpulan sendiri dan bisa membantu untuk bisa lebih berfikir tentang yang terbaik bagi sobat semua.
Wassalamu'alaikum.




0 comment:
Posting Komentar
Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .