Aku pernah berada dalam keadaan yang membuatku berfikir tentang dua hal. Mempercayai logika atau hati? Aku mengerti apa yang dikata, adalah sesuatu yang membuatku berfikir tentang suatu kebodohan. Tapi bukankah kebodohan itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan sebuah ketulusan? Sebenarnya, siapa yang bodoh dan siapa yang terlalu berambisi untuk mengerti?
Aku memang ingin merasakan menjadi seperti mereka, menjadi yang selalu diutamakan. Tapi aku sadar, semua itu bukan jalanku dan bukan saatnya untukku mengharapkan semua itu terjadi dalam hidupku. Cerita ini masih panjang. Kenapa semua hanya bisa berfikir kesenangan dan kepuasan untuk saat ini? Bukankah itu hanya nafsu semata? Tapi bukan itu tujuanku!
Bukan ku tak mau menerima kata-kata yang selalu ditiupkan itu, aku mengerti, dan aku paham. Hanya saja, si peniup itu yang tak pernah mengerti akan sikapku selama ini. Aku bukan seseorang yang mudah membenarkan semua, memang tidak ada salahnya, tapi semua itu ber-tapi. Hanya aku, (mungkin) dia, dan Allah yang tau.
Secara logika, memang semua itu benar adanya, itu nyata, tak berbeda sama sekali dan aku mengerti. Tapi, semua itu hanya penilaian tentang logika, bukan hati. Sebuah suling hanya bisa melepaskan nada ke udara tanpa bisa menyerap kembali maknanya, hingga nada itu terserap oleh keberadaan hati yang sedang sepi. Memang indah, namun mungkin tidak begitu ketika hati menerjemahkan segalanya.
Cinta ini tak menuntut untuk menjadi yang sempurna. Karena butuh perjalanan panjang untuk bisa meraih kesempurnaan. Dan tentu tidak mudah. Hanya dengan sebuah kepercayaan yang bermodalkan ketulusan dan keikhlasan, itu bagian dari kesempurnaan. Hanya menunggu Allah menjawab semuanya.
Ini aku dan hatiku yang tak bisa membohongi rasa yang tersimpan selama ini. Walau berat yang ku dengar, tapi dengan hati ini aku bertahan. Mengukir segala kekuatan hingga melukis senyuman bersama kebahagiaan yang sedang disiapkan. Oleh-Nya.
Aku memang ingin merasakan menjadi seperti mereka, menjadi yang selalu diutamakan. Tapi aku sadar, semua itu bukan jalanku dan bukan saatnya untukku mengharapkan semua itu terjadi dalam hidupku. Cerita ini masih panjang. Kenapa semua hanya bisa berfikir kesenangan dan kepuasan untuk saat ini? Bukankah itu hanya nafsu semata? Tapi bukan itu tujuanku!
Bukan ku tak mau menerima kata-kata yang selalu ditiupkan itu, aku mengerti, dan aku paham. Hanya saja, si peniup itu yang tak pernah mengerti akan sikapku selama ini. Aku bukan seseorang yang mudah membenarkan semua, memang tidak ada salahnya, tapi semua itu ber-tapi. Hanya aku, (mungkin) dia, dan Allah yang tau.
Secara logika, memang semua itu benar adanya, itu nyata, tak berbeda sama sekali dan aku mengerti. Tapi, semua itu hanya penilaian tentang logika, bukan hati. Sebuah suling hanya bisa melepaskan nada ke udara tanpa bisa menyerap kembali maknanya, hingga nada itu terserap oleh keberadaan hati yang sedang sepi. Memang indah, namun mungkin tidak begitu ketika hati menerjemahkan segalanya.
Cinta ini tak menuntut untuk menjadi yang sempurna. Karena butuh perjalanan panjang untuk bisa meraih kesempurnaan. Dan tentu tidak mudah. Hanya dengan sebuah kepercayaan yang bermodalkan ketulusan dan keikhlasan, itu bagian dari kesempurnaan. Hanya menunggu Allah menjawab semuanya.
Ini aku dan hatiku yang tak bisa membohongi rasa yang tersimpan selama ini. Walau berat yang ku dengar, tapi dengan hati ini aku bertahan. Mengukir segala kekuatan hingga melukis senyuman bersama kebahagiaan yang sedang disiapkan. Oleh-Nya.



0 comment:
Posting Komentar
Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .