Cinta itu sebuah rasa. Rasa itu nyata. Nyatanya seperti kamu.
Rasa ini berawal di tempat itu. Saat aku sibuk menatap layar komputer, kau datang entah darimana, membawa senyum indah lalu kau tebar di depan mataku. Memaksaku untuk memalingkan pandanganku. Awalnya aku tak mengerti tentang pertemuan pertama kita. Lagipula saat itu, aku telah memiliki cinta. Entah percaya atau tidak, entah ini kebetulan atau memang firasat. Datangmu ternyata perlahan menyembuhkan luka yang kurasakan tak jauh dari pertemuan awal kita. Ya, aku sempat terluka, karena cinta yang selama ini membutakan mata hatiku karena sibuk memikirkannya.
Sekarang aku menyadari bahwa itu kamu. Rasa itu kamu, membuatku semakin ingin mengerti tentangmu. Andai kamu tau aku juga sibuk mengenang senyummu yang berhasil memalingkan segala apa yang telah aku hadap, hanya untuk melihatnya?
Itu cinta, hadirnya tak pernah ku kira, bahkan setelah aku meyakini bahwa cinta yang sempat kumiliki adalah yang terbaik untukku, nyatanya tidak. Apa kamu tak bisa membaca setiap tatapan mata yang sengaja ku perlihatkan kepadamu? Kamu terlalu bodoh jika kamu berfikir aku tak ingin mengenalmu. Ketahuilah bahwa rasa itu ada, untukmu.
Rasa ini berawal di tempat itu. Saat aku sibuk menatap layar komputer, kau datang entah darimana, membawa senyum indah lalu kau tebar di depan mataku. Memaksaku untuk memalingkan pandanganku. Awalnya aku tak mengerti tentang pertemuan pertama kita. Lagipula saat itu, aku telah memiliki cinta. Entah percaya atau tidak, entah ini kebetulan atau memang firasat. Datangmu ternyata perlahan menyembuhkan luka yang kurasakan tak jauh dari pertemuan awal kita. Ya, aku sempat terluka, karena cinta yang selama ini membutakan mata hatiku karena sibuk memikirkannya.
Sekarang aku menyadari bahwa itu kamu. Rasa itu kamu, membuatku semakin ingin mengerti tentangmu. Andai kamu tau aku juga sibuk mengenang senyummu yang berhasil memalingkan segala apa yang telah aku hadap, hanya untuk melihatnya?
Itu cinta, hadirnya tak pernah ku kira, bahkan setelah aku meyakini bahwa cinta yang sempat kumiliki adalah yang terbaik untukku, nyatanya tidak. Apa kamu tak bisa membaca setiap tatapan mata yang sengaja ku perlihatkan kepadamu? Kamu terlalu bodoh jika kamu berfikir aku tak ingin mengenalmu. Ketahuilah bahwa rasa itu ada, untukmu.
Kamu seperti membawaku dalam tempat berbunga, mengajakku untuk segera pergi dari penjara berduri. Itu kamu, tapi kamu tak menyadari bahwa kamu telah melakukannya untukku. Untuk menyembuhkan lukaku.
Apa aku harus mengatakan padamu, bahwa aku juga ingin mengenalmu? Apa aku harus mengatakan kepadamu bahwa hatiku selalu memanggil kamu untuk menampakkan senyummu kembali?
Karena percaya atau tidak, saat hatiku dengan tanpa sengaja memikirkanmu, tak jauh dari itu kamu datang, seolah kamu mengerti bahwa aku ingin sekali melihatnya, melihat tentang apa yang selalu membuatku berpaling dari segala yang telah kuhadapi.
Rasa yang kurasakan kini, memang tak sepenuhnya kupahami. Entah hanya emosi, atau memang dari hatiku. Nyatanya saat kamu datang aku selalu tak mengerti apa yang harus kulakukan, apa kamu tak pernah melihat hal bodoh yang kulakukan di depanmu? Itu karena aku tak bisa membaca apa yang ada dalam hatiku, seolah kamu mematikan jalan fikiranku agar hanya tertuju padamu.
Untukmu, seseorang yang tak pernah kuduga dengan senyum indahmu, mengertilah bahwa aku juga ingin mengenalmu.




0 comment:
Posting Komentar
Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .