Aku menyebutmu angin. Kau mampu bergerak, mengikuti ke arah fikirku. Kau mengelilingi, memenuhi beranda hatiku. Dalam jiwaku, kau bersandar. Aku menempatkanmu pada sisi hatiku yang tak terlukai. Aku tak ingin kau menutup luka hatiku, biar aku yang menutupnya sendiri, dengan senyum dan perhatianmu.
Aku sering membodohi hatiku sendiri, aku bilang, bahwa aku tak mempunyai rasa untukmu, tapi nyatanya, rasa itu menggebu. Tak bisa kututupi saat kau menatap tajam mataku. Memang, kau tak mengatakan apapun, begitu juga aku. Tapi kusadari bahwa sepasang mata kita berbicara tentang bahasanya sendiri.
Saat ku tengok beranda hatiku, kau tersenyum, indah seperti tak akan lenyap. Saat itu pula aku tersadar aku terbawa lamunan olehmu. Oleh kamu yang mungkin mengerti namun tak memahami. Sebenarnya aku ingin, duduk berdua dan saling pandang, hanya terdiam, dan membiarkan sepasang mata dan hati kita menyatu.
Aku mengerti akan hatimu yang tersakiti oleh waktu, saat ia menjawab bahwa ia tak seperti yang kamu inginkan. Namun kau tak pernah membiarkan aku untuk mencoba mengobati lukamu. Taukah kau bahwa aku ingin? Menjadi satu-satunya rasa yang kau punya setelah lama hatimu tak berpenghuni. Oh mungkin masih, tapi kau tak menyadari bahwa ia telah pergi.
Aku mengerti bagaimana rasanya tersakiti. Dan aku baru saja rasakannya. Aku tau, sulit untuk menerima segala yang tak pernah terpikirkan. Tapi yakinlah, bahwa terkadang yang tak pernah terpikirkan adalah kebahagiaan yang jauh lebih indah. Karena hadirnya tanpa rencana, tanpa diduga dan mengalir seperti air, berkelana bagai udara. Dan aku menyebutnya, kamu.




0 comment:
Posting Komentar
Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .