RSS
Facebook
Twitter

Agustus 05, 2015

Cahaya Satu Bulan

Kutanyakan pada hempasan angin.
Mengapa slalu kurasakan rindu ini padanya yang lukai hati?
Kutanyakan pada desiran waktu.
Mengapa tiada bosan hati ini mengingatnya?

Dan kurebahkan tubuhku di bawah langit hitam. Sengaja kupandangi bintang-bintang yang tak pernah sendirian. Mereka bahagia. Selalu bersama dalam setianya menghiasi malam pekat. Kupalingkan pada rembulan. Lalu mengapa ia seorang diri? Tak inginkah ia bersama dengan yang lain? Kutemui jawabnya hanya pada satu sinar. Ia memang slalu sendiri. Tapi cahaya seribu bintang tak bisa menandingi cahaya satu itu.

Kini kutahu jawabannya.
Rasa sakit dan kecewa yang kurasakan.
Lalu mengapa aku slalu mengingat dan merindunya?
Karena hanya satu.
Satu ketulusanku untuk mencintanya.
Tak kan pernah terkalahkan dengan besarnya rasa sakit dan kecewaku.

Bukankah waktu yang mengizinkan aku dan dia betemu? Waktu yang mengizinkan aku bersatu dengannya. Bahagia dalam dekapan waktu. Sedih dalam rentangan waktu. Dan semua tentang waktu. 

Dalam dekapan waktu pula aku sangat merindukannya.
Ketika aku rasakan sakit ini.
Ketika aku rasakan kecewa ini.
Namun tak bisa kupalingkan rasa rinduku sedetikpun.
Aku rindu.
Rindu padanya yang biasa membuatku tertawa, tersenyum bahagia.
Meski sekarang kurasakan sendiri.
Tapi cintaku tak pernah bohongi hati. 
Kuingin dia disini. Tepiskan sakit dan kecewaku.

2 komentar:

Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .

  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_