RSS
Facebook
Twitter

November 16, 2013

Give It Just For Me

Dia tak bisa dilihat, namun sangat pandai untuk melihat. Dia yang tak pernah bisa berpura-pura, selalu sulit menyembunyikan yang dirasa, sekalipun telah berniat melakukannya. Ada saat dimana dia lelah, iya, lelah tentang semua yang dirasakannya. Saat ia tak lagi bisa bersembunyi dibalik kata, hanya senyum kecil yang bisa dipaksakannya. Dia adalah sesuatu yang selalu bersamaku, merasakan apapun itu. Bahagia maupun air mata, dia yang buatku merasakannya. Aku tak menyesali, sekalipun dia sangat lebih bisa membuatku merasakan apapun yang belum pasti terjadi sekalipun. Ya, dia adalah hati, perasaanku yang tak dapat terbohongi.

Terkadang, sesuatu membuatku bingung merasakan apa yang seharusnya tak perlu kurasakan. Mempertanyakan yang tak perlu ku pertanyakan. Ku sadari, aku adalah aku dengan hati yang lemah. Perasaan yang tak pernah bisa untuk ku bohongi, meskipun senyumku mampu menutupi.

Sama, seperti apa yang kurasakan saat ini. Sebenenarnya ku tak perlu lakukan apapun untuk meyakinkan hatiku. Tapi, sesuatu memaksaku untuk melakukannya. Aku tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya bisa merasakan apa yang dirasakan hati. Aku bukan penyair, yang pandai ungkap kata. Tapi perasaan ini menuntunku untuk selalu merangkainya, menjadi luapan emosi saat hatiku sedang terbalut rasa.

Aku ingin ungkapkan segala apa yang kurasa padanya. Iya, padanya. Pada dia yang selalu menyita waktu dan perasaanku. Pada dia yang selalu memenuhi fikiranku. Pada dia yang ku cinta. Aku ingin mengetahui semua, namun aku ragu. Apa aku sanggup hadapi kenyataan yang akhirnya tak sesuai harapan? Apa aku mampu untuk mengetahui sesuatu hal yang mungkin membuat luka baru pada diriku?

Besi yang kuatpun tak mampu menahan dirinya agar tak tenggelam. Begitupun hatiku, setegar apapun, ia takkan mampu berdiri tegar seperti yang kuinginkan.
Aku ingin merasakan menjadi seseorang yang tak berperasaan sekalipun, aku ingin terbebas dari prasangka buruk yang memaksaku memikirkan sesuatu yang belum pasti terjadi.

Namun, aku hanya berharap. Dengan adanya perasaan ini, dengan seringnya ku rasakan ini, hati ini kan lebih bisa menerima apapun, sesakit apapun. Karena, semua orang takkan mampu hadapi gelap malamnya tanpa setitik cahaya yang membantunya mencari mentari.
Seperti halnya diriku, dengan lentera yang kumiliki saat ini, aku takkan mampu jika suatu saat Tuhan mengambil lentera itu (lagi). Cukup kurasakan gelapnya, dan saat ini aku hanya berharap, apapun yang terjadi, Tuhan selalu bersedia berikan lentera itu untukku.
Hanya lentera itu, dan hanya aku.

2 komentar:

  1. Semoga lentera itu akan selalu bersamamu dan selalu menemani hari-harimu :)

    BalasHapus
  2. Aamiin, thanks Gan..
    dan semoga Tuhan memberikan juga lentera yang tak padam oleh masa untukmu ;)

    BalasHapus

Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .

  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_