Lima tahun yang lalu, tepat dimana aku mengenal arti cinta. Kebahagiaan, yaa awalnya memang kebahagiaan yang kurasa. Canda tawa bersama orang yang ku sayang dan menyayangiku. Namun, semua tak seperti yang diharapkan. Tak seindah yang dibayangkan. Dua orang yang saling mencintai, namun di salah satu pihak, memilih untuk mempererat hubungan persahabatan. Memang, cukup bahagia kurasa hanya dengan persahabatan itu. Namun sakit saat ku tau orang yang biasa memberikan waktunya hanya untukku, harus membagi waktunya untuk orang lain.
Ku tersadar, hanya persahabatan. Dan ia, memilih kebahagiaan yang lain selain diriku. Aku tak mengapa, hanya dengan dia slalu ada di dekatku, itu cukup membuatku merasakan kebahagiaan, tanpa membuang kemunafikan. Karena sesungguhnya, tak ada kata “kita bahagia melihat orang yang kita sayang bahagia”, walau dengan orang lain? TIDAK. Rasa sakit itu pasti sempat kita rasakan, merasa hidup ini tak adil.
Waktu terus berjalan dengan rasa sakit ini. Apa yang bisa ku lakukan? Pergi? Aku tak mampu. Bertahan? Cukup sakit bagiku. Namun, aku mencoba tegar, ikhlas dalam menjalani semua ini, walau terkadang, aku tak bisa sembunyikan rasa sakit yang ku rasakan.
Awalnya, semua ini mengubahku menjadi pribadi yang tertutup, aku menjadi pendiam, pemurung. Aku juga tak lepas dari sifat iri, aku menjadi suka mencela dan membenci orang lain. Tanpa ku sadari, semua adalah perjalanan. Yaa, siapa yang bisa hentikan waktu, waktu terus berjalan dengan atau tanpa rasa sakitku. Siapa yang peduli? Hanya diriku yang mampu mengobati luka abadi ini. Yaa, awalnya ku kira begitu, hanya aku yang mampu mengobati rasa sakit yang selama kurang lebih empat tahun ku rasakan. Iyaa, empat tahun ku bertahan pada cinta yang hampir membuatku menyerahkan seluruh waktu hidupku hanya untuk sebuah ketidakpastian.
Dan sampai akhirnya, waktu lelahkan hatiku. Aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang membuat lukaku sedikit menghilang, walaupun masih membekas. Bukan sebelumnya ku tak mempunyai sahabat, namun, kali ini waktu bersama lebih banyak dibanding sebelummnya. Dan dari sinilah aku mengenal arti dan makna dari CINTA….
Ku tersadar, hanya persahabatan. Dan ia, memilih kebahagiaan yang lain selain diriku. Aku tak mengapa, hanya dengan dia slalu ada di dekatku, itu cukup membuatku merasakan kebahagiaan, tanpa membuang kemunafikan. Karena sesungguhnya, tak ada kata “kita bahagia melihat orang yang kita sayang bahagia”, walau dengan orang lain? TIDAK. Rasa sakit itu pasti sempat kita rasakan, merasa hidup ini tak adil.
Waktu terus berjalan dengan rasa sakit ini. Apa yang bisa ku lakukan? Pergi? Aku tak mampu. Bertahan? Cukup sakit bagiku. Namun, aku mencoba tegar, ikhlas dalam menjalani semua ini, walau terkadang, aku tak bisa sembunyikan rasa sakit yang ku rasakan.
Awalnya, semua ini mengubahku menjadi pribadi yang tertutup, aku menjadi pendiam, pemurung. Aku juga tak lepas dari sifat iri, aku menjadi suka mencela dan membenci orang lain. Tanpa ku sadari, semua adalah perjalanan. Yaa, siapa yang bisa hentikan waktu, waktu terus berjalan dengan atau tanpa rasa sakitku. Siapa yang peduli? Hanya diriku yang mampu mengobati luka abadi ini. Yaa, awalnya ku kira begitu, hanya aku yang mampu mengobati rasa sakit yang selama kurang lebih empat tahun ku rasakan. Iyaa, empat tahun ku bertahan pada cinta yang hampir membuatku menyerahkan seluruh waktu hidupku hanya untuk sebuah ketidakpastian.
Dan sampai akhirnya, waktu lelahkan hatiku. Aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang membuat lukaku sedikit menghilang, walaupun masih membekas. Bukan sebelumnya ku tak mempunyai sahabat, namun, kali ini waktu bersama lebih banyak dibanding sebelummnya. Dan dari sinilah aku mengenal arti dan makna dari CINTA….



0 comment:
Posting Komentar
Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .