RSS
Facebook
Twitter

November 06, 2014

Disini Aku Berhenti

Disini, aku berhenti. Memperjuangkan yang membuatku terluka. Aku memang tak pernah membayangkan bagaimana semua ini bisa berakhir, setelah sekian lama waktu bersamaku, dan di hari ini, aku menampakkan lelahku, yang selama ini bersembunyi dalam tawa palsu. Iya, aku bahagia bersamanya, dan di dalam hatiku. Tapi kini, semua berbeda, entah karena apa? Apa membosankan baginya? Apa tak lagi indah untuknya? Mungkin, karena aku rasakan yang sama.

Disini, aku berhenti. Atas nama bahagia yang kulupakan hanya tentang dia. Yang selalu menyita segala waktu dan energiku untuk berfikir tentangnya. Dan aku tak pernah mengerti, seberapa penting dirinya bagiku hinga kulupakan segala apa yang berhak aku rasakan di dunia ini, dalam hidupku.

Disini, aku berhenti. Dari kenyamanan palsu yang pernah kuyakini. Memang, aku yakin dia yang terbaik, aku yakin dia untukku. Namun, Tuhan membuka mata hatiku, bahwa bahagiaku bukanlah bersamanya. Aku sempat tak bisa menerima, namun apa yang bisa kulakukan jika memang itu yang terbaik untukku menurut-Nya?

Disini, aku berhenti. Bersembunyi dalam luka, berdiam diri dalam pagar berduri. Untuk apa? Semua telah berubah. Aku menyayangkan? Iya. Menyayangkan waktu yang telah terbuang hanya untuk memikirkan dirinya yang tak pernah bisa mengertiku. Aku lelah jika harus terus bersembunyi dalam kesakitan yang terbalut senyuman.

Disini, aku berhenti. Belajar memunafikkan rasa. Kini aku mengerti apa yang harus kulakukan. Bangkit dari kepalsuan yang merajalela. Bangkit dari keterpurukan yang menyiksa. Jemput bahagiaku yang telah lama terpendam. Hampir hilang ditelan kepalsuan. Aku rela, atas nama bahagiaku. Aku mencoba untuk terus melanjutkan hidupku, mencari kebahagiaan yang bukan hanya sesaat kurasakan, dan itu, bukan dia. Kuyakinkan hatiku, bahwa tujuanku, bukan dia.



Dan disini, aku berhenti. Demi hidupku yang lebih baik. Berhenti untuk terus membayangkan hal-hal romantisme bersamanya, melanjutkan skenario palsu yang tertuang. Sudaah, bakar skenario lanjutan yang harus kujalani bersamanya. Aku lelah. Aku melepasmu, pergi..

2 komentar:

Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin. Berkomentarlah dengan bijak . .

  • Followers

    Statistik Blog

  • Note

    Manusia diciptakan dengan dua mata, agar dapat melihat dengan sempurna. Dua telinga, agar lebih banyak mendengar. Satu mulut, agar berbicara seperlunya. Dan satu hati, untuk bisa merasakan segalanya. =) ~ @dkdhinin_